Categories
Opini

Drama IDI … Lagi

Lama-lama terbersit juga pikiran “Pantesan Jerinx sebel banget sama IDI”, di kepala saya. Ya apalagi kalau bukan Ikatan Dokter Indonesia yang terasa banget nyinyir terus dengan pemerintah setelah konon sosok yang tidak diinginkannya untuk menempati posisi Menteri Kesehatan tetap dipilih dan dilantik Presiden Jokowi.

Kali ini muncul berita kalau IDI menolak menjadi kelompok penerima pertama vaksin Covid-19. Padahal sebagai kelompok yang paling beresiko tertular, pemerintah justru mentargetkan para tenaga kesehatan untuk menjadi kelompok pertama yang mendapatkan vaksin itu. Jelas kalau para dokter, para anggota IDI, menjadi bagian utama dalam kelompok itu.

Berita itu kemudian dia “luruskan” dengan pernyataan Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih, seperti dikutip media berita, salah satunya detik.com. Pada intinya Pak Faqih menyatakan bahwa pemberitaan IDI menolak menjadi kelompok pertama disuntik vaksin Covid-19 tidak benar.

Lalu yang benar seperti apa? Ternyata IDI menunjuk Kepala Negara dengan sikap yang dalam bahasa sehari-hari biasa diekspresikan dengan kalimat sederhana “Elu duluan dong!”

Tentu tidak persis seperti itu. Pak Faqih mengatakan bahwa IDI siap menjadi kelompok pertama disuntik vaksin Covid-19 setelah Presiden Jokowi. Artinya setelah Presiden Jokowi disuntik vaksin Covid-19, IDI bersedia menjadi yang berikutnya. Lebih jauh Pak Faqih menyebut kalau diantara para anggota IDI, beliau bersedia disuntik pertama.

Sudah terasa luruskah setelah diluruskan? Buat saya sih malah tambah mbulet. Kenapa?

Pertama soal permainan tata kata ala Anies Baswedan, muter-muter mencari pembenaran untuk sesuatu yang sudah jelas salah. Mereka nggak mau dibilang menolak untuk menjadi yang pertama. Lalu memberi penjelasan bahwa mereka mau menjadi yang pertama setelah Presiden Jokowi. Itu artinya KEDUA lho Pak. Bukan yang pertama lagi.

Kedua soal semangat. Pemerintah menjadikan tenaga kesehatan, termasuk IDI di dalamnya, sebagai yang pertama, justru untuk memberi perlindungan, karena merekalah yang resiko tertularnya paling tinggi. Sikap IDI menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman berbeda, bukan soal perlindungan, tapi lebih mirip percobaan.

Kalau mau banding-bandingan, tenaga kesehatan itu setiap hari berhadapan dengan mereka yang beresiko mengidap, bahkan terkonfirmasi positif mengidap Covid-19. Sementara Presiden Jokowi mungkin malah orang dengan resiko tertular Covid-19 paling kecil di seluruh tanah air. Mobilnya saja tahan peluru, dikawal pasukan pula. Soal Covid-19 pastinya penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekitar beliau luar biasa ketat. Jangankan orang biasa, konon menteri saja bertemu beliau harus swab test dulu.

Sebetulnya kalau IDI menolak menjadi yang pertama dan memilih menjadi yang kedua saja, itu juga sudah salah. Karena orang Indonesia yang disuntik vaksin Covid-19 sebagai percobaan sudah ada, lebih dari seribu orang relawan, termasuk Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Soal vaksin Covid-19 merekalah para patriotnya, berani mengambil resiko, bukan ciut tapi pengen keliatan berani seperti sikap yang ditunjukkan IDI dan Pak Faqih.

Bahkan orang-orang Indonesia yang disuntik vaksin Covid-19 diluar program uji coba pun sudah ada. Duta Besar dan jajaran Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uni Emirat Arab sudah mendapat suntikan pertama pada tanggal 21 Oktober 2020 lalu.

Lempar-lemparan siapa mau jadi yang pertama itu banci banget. Tuh denger Pak Dahlan Iskan yang sudah sepuh dan pernah mendapat transplantasi hati saja bersedia divaksin duluan.

Saya? Saya bukan cuma bersedia tapi pengen. Kalau saja bisa jadi yang pertama, saya mau pake banget. Pengen secepatnya bebas dari belengu virus sialan ini. Biar bisa bebas seperti dulu lagi. Pergi kemanapun, bertemu siapapun, tanpa dihantui kecemasan lagi. Cuma siapalah saya ini. Sayangnya kesempatan istimewa itu nggak mungkin jadi milik saya. Paling banter saya cuma bisa menunggu kapan vaksinasi mandiri mulai tersedia. Saya cuma melihat itu sebagai satu-satunya kesempatan saya mendapat vaksin Covid-19.

Alasan absurd yang diungkap Ketum IDI katanya kalau setelah Presiden Jokowi lalu IDI disuntik vaksin Covid-19 akan membuat publik lebih percaya kalau vaksin itu benar-benar aman. Ajaib kalau menurut saya. IDI itu golongan orang-orang yang pengetahuan medisnya paling tinggi. Mereka tahu penyakit termasuk virus Covid-19 dan akibatnya, tahu aneka vaksin dan cara kerjanya, seharusnya merekalah yang paling yakin kalau vaksin covid-19 ini merupakan langkah paling efektif dan aman keluar dari pandemi.

Meskipun begitu saya juga melihat masih ada golongan masyarakat yang meragukan bahkan menolak vaksin Covid-19 ini. Alasannya macam-macam, entah benar atau sekedar alasan doang. Ada yang mempertanyakan kehalalannya, ada yang meragukan efektivitasnya, ada yang khawatir dengan keamanannya. Bisa jadi kalau Presiden Jokowi sebagian yang ragu akan lebih merasa yakin.

Hanya saja, tukang nyinyir tetaplah tukang nyinyir. Kalaupun untuk meyakinkan masyarakat, Presiden Jokowi jadi yang pertama mendapat vaksin Covid-19, bisa jadi mereka justru akan menuding kalau beliau cari selamat duluan.

Berhentilah berdrama Pak Faqih. Demi masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.