Categories
Opini Wisata

The Soul of Bali

Beberapa minggu lalu saya sempat berdiskusi santai dengan beberapa stakeholder pariwisata di Karangasem, kabupaten yang berada di ujung timur Bali. Ketua BPPD Kabupaten Karangasem dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem. Salah satu yang muncul dalam obrolan adalah tagline “The Spirit of Bali”, yang di sejumlah media berita dihubungkan dengan Karangasem.

Hari ini penjelajahan saya di dunia maya mempertemukan saya dengan tagline baru “The Soul of Bali”. Adakah yang tahu tagline siapa? Jangan-jangan semua orang di Bali tahu, cuman saya yang luput. By the way, hari ini saya tahu kalau itu adalah tagline pariwisata Kabupaten Badung. Resmi. Karena logo yang menyertakan tagline itu dipakai dalam situs resmi yang mempromosikan pariwisata Kabupaten Badung https://www.badungtourism.com

Dari mana saya tahu kalau itu situs resmi yang dikendalikan pemerintah? Karena memang pada halaman kontaknya menyebut alamat yang berada di dalam lingkungan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung. Alamat email yang diterakan sebagai kontak juga menggunakan domain badungkab.go.id

Badung – The Soul of Bali.

Bali memang unik. Kami yang tinggal di Bali mungkin memang tahu persis lah nama-nama kabupaten yang ada di Bali, letaknya di mana, cakupan wilayahnya segimana, dan sebagainya.

Tapi wisatawan tidak mengenal Bali berdasarkan kewilayahan secara resmi. Bali memiliki kawasan-kawasan wisata populer yang namanya di kalangan wisatawan lebih dikenal.

Contoh kasusnya Badung ini. Badung merupakan satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Pulau Bali. Tempat-tempat wisata populer di Bali seperti Kuta, Jimbaran, Uluwatu, Nusa Dua, Legian, Canggu, dan sebagainya itu masuk ke dalam wilayah Kabupaten Badung. Bandara Ngurah Rai yang posisinya berada di antara Kuta dan Jimbaran itu juga berada di wilayah Kabupaten Badung.

Tapi berapa banyak wisatawan yang mendarat di Bali, menginap di Kuta, dan menikmati sunset di Pura Uluwatu, seafood bakar di Jimbaran, itu mereka sedang berada wilayah Kabupaten Badung?

Dan situasi ini bukan hanya terjadi di Badung saja. Kabupaten-kabupaten lainpun sama saja.

Berapa banyak orang di luar Bali sana yang tahu Ubud? Banyak sekali sepertinya. Tapi berapa banyakkah mereka, yang bahkan mungkin pernah berlibur di Bali dan mengunjungi Ubud, kenal nama Gianyar? Padahal Gianyar adalah nama kabupaten dimana Ubud berada. Berapa banyak orang yang menikmati keindahan kawasan wisata Bedugul itu tahu kalau sebagian kawasan Bedugul itu terdiri dari Candikuning merupakan wilayah Kabupaten Tabanan dan Pancasari yang merupakan wilayah Kabupaten Buleleng.

Berapa banyak wisatawan yang tahu kalau Lovina itu bagian dari Kabupaten Buleleng? Mungkin wisatawan bahkan nggak ngeh ada yang namanya Buleleng, mungkin lebih banyak yang tau Singaraja yang sebetulnya merupakan ibu kota Kabupaten Buleleng.

Siapa yang tidak kenal tempat-tempat wisata yang baru-baru ini ngehits di Bali seperti Pantai Kelingking, Diamond Beach, Angel Tears, dll.? Banyak yang tahu kalau tempat-tempat wisata itu berada di Pulau Nusa Penida. Tahu kalau mau ke sana, dari Bali mereka harus naik fast boat dari Pantai Sanur. Tapi kalau mereka yang berbondong-bondong menyeberang dari Pantai Sanur ke Nusa Penida itu ditanya apakah mereka tahu kalau Nusa Penida itu bagian dari Kabupaten Klungkung, apa mereka tahu?

Mungkin bagi sebagian, atau malah kebanyakan, namanya saja baru pertama kali mereka dengar saat ditanya itu.

Seorang teman yang berlibur di Bali dan berkesempatan menghabiskan beberapa hari di Nusa Penida ternyata karena ketidaktahuannya, saat kembali ke Bali, naik fast boat yang mendarat di Kusamba. Bingunglah dia, dan menelepon saya minta tolong dijemput. Dia dengan fasih mengatakan “Kirain gue semua sama, tau-tau gue mendarat di Kusmba, gak tau mau naik apa ke Kuta, tolong jemput gue dong”, pintanya di ujung telepon. Saat saya bilang “Oooh … tunggu ya, jauh soalnya dari sini ke Klungkung”. Dia teriak lantang “Gue bilang tadi Kusamba bukan Klungkung Dul!”

Dan ternyata kabupaten-kabupaten ini memiliki tagline yang lucunya hampir sama. Coba lihat dua itu saja. Karangasem, The Spirit of Bali. Badung, The Soul of Bali. Apa iya orang, wisatawan, benar-benar di kepalanya bisa mengaitkan kata “spirit” dengan Karangasem dan “soul” dengan Badung dan nggak kebolak-balik?

Kadang saya bertanya-tanya sendiri. Bukankah seharusnya wisatawan diberikan pengetahuan kewilayahan itu? Atau mungkin biarkan sajalah sudah. Karena sudah terlanjur tempat-tempat tertentu memiliki brand image yang jauh lebih kuat dari wilayah geografisnya yang memiliki nama resmi sendiri.

Mungkin lebih mudah kalau kita saja yang menyesuaikan diri. Jangan ajak mereka bicara Badung, langsung sebut saja, Kuta, Jimbaran, atau apa yang lainnya. Jangan sebut Gianyar sebut saja Ubud. Dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.