Categories
Filosofi Opini

Riyakah Nyai?

Heboh media sosial kembali diangkat media resmi dalam bentuk berita. Kali ini tentang sosok selebriti Nikita Mirzani yang melalui akun media sosialnya mengumumkan akan menyumbangkan sejumlah uang untuk mereka yang tertimpa bencana. Dalam postingan itu Nicky menyebut akan menyumbangkan masing-masing 100 juta rupiah untuk korban gempa di Sulawesi Barat dan banjir di Kalimantan Selatan.

“Bismillah… Untuk membantu suadara saudara saya yang terkena bencana gempa di Majene Sulawesi Barat dan korban banjir di Kalimantan Selatan, saya ingin menyumbang masing-masing 100 juta untuk membantu meringankan saudara-saudara sayang terkena musibah,” tulis Nicky melalui akun Instagramnya pada hari ini, Minggu, 17 Januari 2021.

Postingan itu langsung menuai pro dan kontra, baik berbentuk respon langsung melalui komentar pada postingan Instagram Nicky, maupun komentar pada akun-akun lain yang membagikan dan portal-portal media yang memberitakan.

Banyak diantara komentar itu bernada positif. Ada pujian atas kedermawanan Nicky. Ada harapan agar semakin banyak yang tergerak untuk membantu. Ada doa agar rejekinya semakin lancar sehingga bisa terus beramal. Tetapi yang bernada negatif tidak kalah banyak. Yang arif memberi nasihat. Yang lebih keras mengkritik. Yang kurang ajar mencaci maki.

Tentu seperti banyak hal dalam hidup, yang positif-positif, yang terpuji-terpuji, yang baik-baik, itu tidak menarik untuk diperhatikan, dibicarakan, dibahas, apalagi sampai dibuatkan posting blog.

Apa yang jadi topik bahasan dari mereka yang menunjukkan reaksi negatif atas apa yang dilakukan Nicky? Apalagi kalau bukan “riya”. Sebuah tindakan yang dalam pemahaman Agama Islam dinilai buruk. Dalam bahasa sehari-hari mungkin sinonim yang paling mendekati adalah “pamer”. Kalau riya bisa dikatakan identik dengan ajaran Agama Islam, saya kira pamer memang juga bukan sesuatu yang terpuji dalam ajaran agama manapun.

Gambaran nyata bagaimana orang memandang sebuah peristiwa. Mereka yang bereaksi positif befrokus pada tindakan menyumbang. Apalagi jumlahnya tidaklah kecil. Apalagi dalam kondisi dimana hampir semua orang sedang kesulitan uang. Mereka yang bereaksi negatif lebih fokus pada tindakan memposting, karena disitulah unsur riya alias pamer bisa tercium.

Saya Umat Islam. Saya termasuk ke dalam golongan yang meyakini kalau riya bukanlah sesuatu yang terpuji. Selain tidak terpujinya riya, Agama Islam juga mengajarkan untuk tidak mengorek-ngorek kekurangan orang lain. “Menelanjangi” kesalahan orang lain. Membahasnya menjadi pergunjingan. Bahkan mencaci maki dengan kata-kata kasar dan kotor.

Sebarkan yang baik, bantu tutupin yang buruk. Jelas bersedekah, membantu, adalah perbuatan baik. Sebarkanlah. Beritakanlah. Mudah-mudahan dengan begitu yang belum akan turut tergerak hatinya untuk membantu juga. Mudah-mudahan dengan begitu yang mendengar akan turut memuji dan memdoakan. Bukankah memuji kebaikan dan mendoakan yang baik selain memberi pahala pada yang dipuji dan didoakan juga memberi pahala bagi yang memuji dan mendoakan?

Kalaulah anda-anda, kalian-kalian, melihat ada rasa-rasa riya dalam tindakan yang menyertai sedekah itu, postingnya mengandung unsur pamer, doakanlah agar amalnya dalam bentuk sedekah itu tetap diterima. Semogakanlah unsur riyanya tidak mengurangi nilai amalnya apalagi berbalik menjadi dosa.

Kalau malah menyoroti riyanya, sampai menghilangkan nilai baik dari sumbangannya karena terlalu fokus pada riyanya, malah menjadikannya cacian, bukankah itu menjadi dosa buat diri sendiri? Lha Nicky? Sudahlah dia bersedekah dengan memberi sumbagan, banyak yang mendoakan, bersabar dengan cacian juga membuat pundi-pundi amalnya makin membengkak.

Membantu itu baik diam-diam, boleh juga terbuka. Yang nggak boleh itu diam-diam nggak membantu. Yang lebih nggak boleh lagi, udah nggak membantu, malah mencaci yang membantu.

Terima kasih Nyai. Semoga dicatat sebagai amal baik. Semoga dibalas dengan limpahan rejeki berlipat ganda. Semoga membuat banyak orang tergerak untuk melakukan hal yang sama. Semoga mereka yang memuji dan mendoakan, yang menasihati dan mengingatkan, mendapat “cipratan” pahala. Semoga mereka yang mencaci diberikab hidayah untuk sadar dan mendapat ampunan sehingga caciannya tidak menjadi dosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.