Categories
Filosofi Opini

Mentalitas Tanpa Pamrih

Tanggal 16 Januari terbit berita tentang peristiwa yang terjadi pada tanggal yang sama, 19 tahun lalu. Tanggal 16 Januari 2002 Pesawat komersial Garuda Indonesia GA421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo. Lokasi kejadian itu cukup terpencil. Tepatnya di Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Flash back kejadian ini mungkin akan berlalu begitu saja dan tidak terlalu menarik perhatian seandainya pada tanggal yang tidak berselisih terlalu jauh, tepatnya tanggal 9 Januari 2021 terjadi peristiwa kecelakaan penerbangan. Sriwijaya Air SJ182 jatuh di kawasan perairan Kepulauan Seribu dan menewaskan seluruh penumpang dan kru yang berada di atasnya.

Memang ada perbedaan mendasar diantara kedua peristiwa itu. Pendaratan darurat GA421 di Bengawan Solo tidak memakan korban jiwa sementara jatuhnya SJ182 di Kepulauan Seribu merenggut 62 jiwa. Tapi di sisi lain ada persamaan yang tidak terbantahkan, sama-sama kecelakaan penerbangan.

Ada perbedaan lain yang tidak berhubungan langsung dengan kedua peristiwa kecelakaan itu, tapi membuat reaksi kita, reaksi masyarakat, sangat berbeda.

19 tahun lalu, pengguna telepon seluler masih sangat sedikit. 19 tahun lalu, internet hanya bisa diakses melalui komputer, sementara penggunaan komputer sendiri relatif masih sangat terbatas. Media sosial? Istilahnya saja belum lahir. Facebook diluncurkan dari kamar asrama mahasiswa Universitas Cambridge di kalangan terbatas pada tahun 2004. Saat peristiwa GA421 mendarat darurat di Bengawan Solo itu, Mark Zuckerberg si pendiri Facebook masih berusia 17an. Masih ABG. Meskipun sepertinya ABG-nya dia nggak ababil seperti kebanyakan ABG yang kita lihat di tanah air.

Konsekuensi perbedaan teknologi itu adalah lambatnya masyarakat menerima berita. Kecelakaan itu diketahui masyarakat, dilaporkan pada aparat secara bertingkat dari desa sampai ke Jakarta, wartawan turun, menyusun berita, dibawa kembali ke kantornya, diedit, dicetak, dikirim ke loper, dianter keliling kompleks, dilemparkan ke halaman rumah, setelah kita pungut dan baca barulah kita tahu.

Saat itu ya biasa. Tapi dibandingkan sekarang jelas jauh beda. Sekarang tahu berita sebesar kecelakaan pesawat satu jam setelah kejadian itu sudah terasa basi.

Konsekuensi lainnya adalah bagaimana kita menanggapi peristiwa. Sekarang beberapa menit setelah kejadian kita sudah dengar berita. Kita langsung menyatakan bela sungkawa, share berita, cari tahu apakah ada kerabat atau kenalan yang menjadi korban.

Pesawat hilang dari radar semua orang bisa mendetekai lewat aplikasi FlightRadar yang bisa diinstall di handphone. Menit berikut setelah FlightRadar mendeteksi pesawat hilang, portal media sosial sudah langsung ramai. Dalam hitungan menit portal-portal berita menyusul.

“Perintilan” dari berita itu tidak kalah menarik dan terus mengalir melalui portal-portal media sosial. Misalnya ungkapan kesedihan istri awak pesawat yang menjadi korban kecelakaan yang diposting melalui Instagram dalam hitungan menit sudah di-share kemana-mana dan langsung diserbu ribuan ungkapan simpati netizen.

Dalam peristiwa pendaratan darurat GA421 itu, cerita dari para saksi mata, dari para penduduk desa yang melihat langsung dan terlibat langsung memberi pertolonganpun baru terungkap sekarang.

Salah satu bagian menarik adalah seorang penduduk desa yang berusaha mengamankan barang-barang milik para penumpang dari kemungkinan dijarah atau dicuri dengan menyediakan satu kamar di rumahnya dipakai sebagai tempat penampungan.

Begirulah ketulusan penduduk desa pada masa itu. Sekarang berapa sering kita mendengar cerita orang yang pingsan gara-gara kecelakaan saat siuman di rumah sakit barang-barang berharga miliknya sudah raib? Berapa sering kita mendengar berita saat ada truk pengangkut yang mengalami kecelakaan masyarakat sekitar bukannya menolong korban justru sibuk berebut mengambil muatan yang tumpah?

Alih-alih mencuri apalagi menjarah, mereka justru berinisiatif mengamankan.

Bagian lain, konon Garuda Indonesia menghubungi mereka untuk memberikan tanda terima kasih. Mereka menolak. Dan karena semua menolak konon akhirnya Garuda Indonesia membangunkan gedung serba guna di desa itu. Mau membandingkan dengan orang jaman sekarang? Jatah bantuan sosial seuprit saja yang mampu ikut berebut tanpa peduli orang yang benar-benar membutuhkan.

Bagian lain lagi. Mereka yang terlibat langsung dalam memberikan pertolongan disebutkan diundang untuk bertemu dengan Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri, ke istana. Mereka sungkan dan memilih untuk meminta kepala desa mereka untuk mewakili mereka memenuhi undangan itu. Orang sekarang? Malah yang sekedar nonton dari jauh saja tiba-tiba berdiri paling depan, siap berangkat lengkap dengan HP terbaru biar pas diposting fotonya keren.

Ngangenin mentalitas tanpa pamrih seperti itu. Entahlah apa sekarang masih ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.