Categories
Sehari-hari

Menanti Vaksin yang Tak Pasti

Vaksin Covid-19 sepertinya tinggal menunggu waktu. Hampir pasti. Dan tidak lama lagi. Persoalannya keterbatasan volume yang tidak sebanding dengan jumlah manusia yang menjadi target membuat sebagian besar kita masih harus menunggu lebih lama. Entah berapa lama.

Melihat perkembangan terakhir tentang pandemi Covid-19, sepertinya penyelesaian paripurna baru akan terjadi setelah vaksin yang efektif ditemukan, diproduksi masal, didistribusikan ke seluruh dunia, dan disuntikkan ke sekian milyar manusia yang berkeliaran di setiap sudutnya. Baru setelah itu semuanya bisa berjalan normal. Orang tak lagi harus terpenjara dengan dalih isolasi dalam ruang tersendiri, terkurung di rumah sendiri karena harus “stay at home”, nggak bisa ke luar kota karena entah ” lockdown” atau PSBB, atau malah wara-wiri antar negara.

Soal waktu, bahkan Pemerintah Indonesia yang tidak menemukan vaksinnya sendiri saja sudah woro-woro akan mulai menyuntikkan vaksin untuk masyarakat dalam waktu dekat. Targetnyapun semakin maju Bukan tahun depan, bukan awal tahun depan, bukan akhir tahun, tapi November tahun ini, yang artinya tinggal sebulanan lagi. Konon untuk mengakselerasi produksi dalam jumlah besar dengan cepat, sejumlah BUMN farmasi disiapkan agar vaksin yang dihasilkan dari penelitian yang dilakukan perusahaan-peruaahaan farmasi di luar negeri, bisa diproduksi di Indonesia.

Saya yakin pemerintah berjibaku untuk memaksimalkan ketersediaan vaksin Covid-19 secepat-cepatnya, selain untuk menyelamatkan nyawa juga untuk menyelamatkan perekonomian. Fasilitas yang disiapkan untuk produksi besar-besaran segera setelah pengujian selesai diparalel dengan impor.

Tapi meskipun demikian, kapasitas produksi bukannya tak terbatas. Sementara produsen-produsen di luar negeri juga harus membagi produknya dengan penduduk negaranya sendiri maupun negara-negara lain. Akibatnya pemerintah sendiri sudah memastikan bahwa untuk tahap awal, ketersediaan vaksin Covid-19 setidaknya pada tahap awal tidak akan cukup untuk seluruh penduduk Indonsia.

Tidak ada pilihan lain, pemerintah terpaksa menentukan proiritas, golongan orang yang didahulukan mendapat suntikan vaksin Covid-19.

Jelas golongan yang mendapat prioritas utama adalah mereka yang berhadapan langsung dengan penderita, tenaga medis. Berikutnya para pelayan masyarakat. Mereka yang tugasnya memaksa untuk berhadapan dengan banyak orang yang bisa saja diantaranya ada yang merupakan OTG alias Orang Tanpa Gejala, misalnya saja polisi. Lalu mereka yang baik karena umur maupun karena mengidap penyakit penyerta yang membuat resiko terinfeksinya lebih besar. Lalu mereka yang bekerja di sektor pelayanan publik, seperti pengemudi ojek online misalnya, atau kru pesawat. Pedagang pasar.

Saya nggak protes dengan kenyataan bahwa saya tidak termasuk golongan yang diprioritaskan untuk mendapat suntikan vaksin Covid-19 duluan. Saya sangat maklum kalau menyediakan vaksin dalam jumlah demikian banyak dalam waktu sesingkat-singkatnya memang sangat berat. Menyiapkan vaksin untuk ratusan juta rakyat Indonesia jelas makan waktu. Saya juga faham mengapa golongan ini dan itu mendapat prioritas lebih tinggi, didahulukan mendapatkan vaksin.

Bukankah memang seharusnya saya bersyukur karena, misalnya, saya tidak mengidap satupun penyakit yang ditenggarai membuat inveksi Covid-19 menjadi demikian berbahaya bahkan mematikan?

Meskipun begitu saya juga sadar bahwa konsekuensi langsung dari tidak termasuk golongan yang lebih dulu mendapat vaksin Covid-19 adalah hidup dalam resiko terinfeksi Covid-19 lebih lama. Saat banyak orang lain sudah bisa bernafas lega dan merasa aman karena sudah mendapatkan vaksin, saya masih tetap menghadapi resiko terinveksi.

Jadi gimana dong?

Ya apa boleh buat. Artinya saya harus lebih lama hidup dalam kehati-hatian ekstra. Rajin cuci tangan atau membasuh tangan dengan desinfektan, langsung mandi dan ganti baju begitu pulang ke rumah, rajin minum vitamin dan mineral untuk memastikan imun tubuh tetap prima, rasa-rasanya sih saya siap-siap saja.

Yang saya yakin akan berat buat saya adalah terpaksa tetap memakai masker saat hampir semua orang lain sudah tidak lagi memakainya.

Pasti akan terasa aneh banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published.