Categories
Sehari-hari

Bencana Kacamata

“Kenapa ujung hidung bagian atas tempat kaki kacamata menjejak tiba-tiba berasa sakit”, batin saya sambil melepas kacamata, menggosok-gosok bagian yang sakit, dan mengenakannya lagi.

Masih sakit.

Saya fikir ada kotoran atau apa di bagian kacamata yang biasa saya sebut sebagai “sepatu” itu.

Namanya yang bener itu “nose pad”. Tapi kalo diterjemahkan koq rasanya jadi agak nggak nyambung. “Dudukan hidung”. Apaan yabg duduk di hidung? Atau emang hidung duduk dimana? Jadi ya biar saya pilih sebutan yang sudah saya pake sejak pertama kali pake kacamata saja deh.

Saya lepas kacamata lalu nyari-nyari tissue. Biasanya sepatu kacamata selain kotor juga licin berminyak dari keringat.

Lho koq nggak ada? Bukan tissuenya yang nggak ada. Sepatu kacamatanya yang nggak ada sebelah. Pantesan sakit. Kaki kacamata yang berbahan logam dan ujungnya kecil jadi lumayan tajam itu langsung menusuk kulit karena sepatunya nggak ada.

Panik.

Buat saya kacamata itu sangat esensial. TV yang jaraknya hanya 2 – 3 meter di depan saya tidak bisa saya lihat jelas tanpa kacamata. Muka orang di seberang ruangan yabg jaraknya 4 – 5 meter tidak bisa saya kenali tanpa kacamata. Nyetir? Naik motor? Tanpa kacamata nggak mungkin bisa saya lakukan.

Minus dan silindris dengan angka yang lumayan besar membuat saya tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa dengan mudah dilakukan orang lain tanpa kacamata.

Karena penglihatan kabur, sebentar saja saya beraktivitas tanpa kacamata akan membuat saya pusing. Kalau dipaksakan lebih lama bisa mancing vertigo kumat.

Makanya kalau saya kehilangan kacamata, lupa naro kacamata yang dilepas saat mau mandi, atau ketiduran sambil masih memakai kacamata lalu istri melepas dan menyimpannya, saya panik sendiri. Sebagai seorang pelupa sejati, kejadian itu memang sering terjadi.

Kenapa saya panik?

Karena kalau kacamata saya rusak, biasanya untuk memperbaikinya saya bawa ke toko langganan tempat saya membelinya. Dan disitu service kacamata pasti lama, karena harus dikirim ke kantor pusatnya, mungkin di Jakarta. Kirim, diperbaiki, kirim balik, bisa makan waktu 1 sampai 2 minggu.

Begitu sadar sepatu kacamata saya hilang saya langsung menghubungi toko langganan saya. Jawabannya sesuai kebiasaan. Katanya spare-partnya harus dipesan dulu, jadi mungkin sekitar 3 hari sampai satu minggu baru datang dan bisa dipasang.

Nggak mungkin saya hidup tanpa kacamata selama itu. Artinya saya harus beli kacamata baru sembari nunggu yang ada diperbaiki.

Itu bukan urusan sederhana buat saya. Pertama kacamata baru itu lensa saja mungkin sekitar 2 atau 3 juta, belum frame. Kalau sekedar 4 sampai 5 juta habis. Kedua kombinasi minus dan silindris dalam angka yang cukup besar membuat setiap kali beli kacamata perlu waktu lama sampai kacanya datang dan selesai dipasang. Bisa seminggu juga.

Sebetulnya saya punya kacamata cadangan. Bukan cuma satu malah dua. Satu kacamata biasa, bisa dipake sehari-hari. Satu lagi sunglass, hitam. Ribet, tapi setidaknya bisa dipake melihat jelas.

Sayang kondisi saya sedang tidak memungkinkan untuk mengakses kacamata itu.

Tapi sulit dipaksakan, rasa sakitnya terlalu mengganggu.

Saved by Google

Tapi konon memang saat kepepet itulah solusi muncul. Sambil agak desperate, saya mencoba sesuatu yang saya fikir nggak akan membawa hasil. Googling.

Saya biasa Googling. Dalam kebanyakan hal, nyari apapun yang pertama saya lakukan Googling. Lalu kenapa sekarang saya justru merasa Googling gak akan membantu?

Karena yang saya cari terlalu spesifik. Toh kalo saya lupa naro kacamata saya juga nanya istri, nggak nanya Google.

Jadi singkatnya saya nanya Google dan ternyata menemukan Google Business Profile Ayu Optik yang digawang Pak Eddy yang punya julukan Eddy McGyver.

Revienya lumayan banyak, 20an, dan semua bagus-bagus. Dari review-review itu saya tahu ads banyak kasus kerusakan kacamata yang jauh lebih berat dari kasus yang saya hadapi, bisw diselesaikan Pak Eddy dengan memuaskan. Banyak review malah menyertakan foto-foto before dan after.

Di halaman profile itu juga ada tercantum nomor telepon yang ternyata aktif bisa dihubingi lewat WA. Jadi saya langsung konsultasikan masalahnya, solusinya, bahkan biayanya.

Tapi nemu tempatnya ternyata agak susah soalnya tersembunyi. Saya berhenti tepat saat Google Map bilang sudah sampai. Tapi celingukan kesana-kesini nyari Ayu Optik koq nggak ada.

Saya lihat alamatnya katanya satu kompleks dengan minimarket yang ada disitu, UD Aryawan. Tapi dari ujung ke ujung saya perhatiin nggak ada. Sampai akhirnya saya putuskan untuk masuk ke parkiran minimarketnya saja. Mungkin nanti tanya-tanya disitu.

Pas parkir, saya baru liat kalau di pojok parkiran itu ternyata ada gang dengan jejeran kios-kios ke belakang. Dari jalanan memang nggak kelihatan karena kehalang bangunan ATM. Saya liatin satu per satu kios akhirnya saya melihat kios yang warnanya seperti yang saya liat di foto-foto di Google Map.

Saya samperin lebih dekat baru keliatan ada plang kecil yang sudah agak buram di bagian atas depan toko. Jadi emang gak gampang keliatan.

Ya sudah. Masuk langsung saya kasih kacamata saya. Mungkin karena sudan sempat WA-an, saya kasih kacamata saya dia langsung nyambung.

Hanya sekitar 2 – 3 menit kacamata saya dia garap di meja kerjanya. Selesai. Hanya 40 ribu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *