Categories
Opini

Makmur Saat Pandemi

Sudah lebih dari enam bulan berlalu dan pandemi Covid-19 sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda mereda apalagi berakhir. Meskipun perkembangan mengenai vaksin nampak cukup menjanjikan, konon at best baru bisa dipergunakan tahun depan. Berarti luluh lantaknya perekonomian yang membuat dompet kita kocar kacir rasa-rasanya masih akan berlangsung cukup lama.

Hampir semua sektor ekonomi terpengaruh membuat hampir semua orang mengalami pandemi tongpes, kantong kempes. Tentu tingkatnya beda-beda. Tapi bahkan pengusaha kaya rayapun banyak yang pusing tujuh keliling. Jangan salah. Kalaupun untuk sekedar makan dan bersenang-senang keluarganya mereka mungkin punya lebih dari cukup, melihat kerajaan bisnis yang susah payah dibangunnya terseok-seok bukanlah hal yang mudah.

Ini bukan sekedar pengamatan orang gak penting yang saking gak ada kerjaan sampe punya banyak waktu untuk dibuang-buang nulis postingan blog. Dalam sebuah pernyataan yang dilansir sejumlah portal berita, Menteri Keuangan bertangan besi tapi murah senyum itupun mengatakan hal yang sama. Menurut Bu Sri, satu-satunya sektor yang positif adalah sektor digital.

Tapi itu bicara sektor ekonomi yang tentu saja masing-masing menjadi sandaran hidup sekian banyak pekerja yang masing-masing menghidupi sekian anggota keluarga. Kalau secara langsung kita bicara manusianya, bicara tenaga kerjanya, sebetulnya ada kelompok besar yang nampak jelas lebih terlindung dari dampak ekonomi pandemi Covid-19. Luput dari perhatian Bu Sri? Pastinya tidak. Bahkan Bu Sri sendiri termasuk dari beberapa pejabat yang bertanggung jawab melindungi kesejahteraan mereka.

Tadinya saya hanya menyimpan sebagai kelebatan-kelebatan fikiran di kepala saya saja. Sampai hari ini ada setidaknya dua momen yang terasa mengkonfirmasi fikiran itu.

Momen pertama. Tadi mendadak saya membawa mobil ke bengkel karena ada kerusakan kecil. Saat duduk menunggu sambil menikmati secangkir kopi yang disajikan di ruang tunggu, muncul sales yang menjual mobil yang saya pakai. Dia memang kerja disitu. Saya beli mobilnya dari situ. Tiap service masuknya juga kesitu. Sederhana saja, itu yang paling deket rumah.

Membuka obrolan ringan mengenai masalah dengan mobil yang membuat saya mendadak menyambangi bengkel diluar jadwal rutin sambil tidak lupa dia menyisipkan tawaran untuk mengambil unit baru, obrolan berlanjut pada pengaruh pandemi Covid-19 pada penjualan mobil. Dia menggambarkan penjualan yang jauh menurun tapi dari bulan ke bulan dia masih bisa melepas beberapa unit. Dia sendiri lho. Belum sales lain. Belum dealer lain.

“Sekarang saya fokus ke PNS aja A”, ungkapnya. Dia memang memanggil saya Aa karena dia tahu kalau saya orang Sunda, satu suku bahkan satu kota asal dengan istrinya. “Mereka yang nggak terpengaruh kan A, apalagi tuh yang pada masuk Satgas Covid”, jelasnya seolah membaca pertanyaan yang belum keluar dari mulut tapi rupanya sudah bisa dia baca dari raut muka saya. “Mereka soalnya kan kalo kredit masih gampang di-ACC leasing, malah ada yang beli cash lho”, sambungnya. Kali ini ucapan yang baru terungkap dari raut muka saya dia timpali dengan tawa lebar.

Saya masih penasaran tapi dia sudah berlalu, katanya buru-buru mau nganvas ke beberapa instansi yang jaraknya agak jauh. “Siang dikit keburu pada ngilang A”, tutupnya sambil berpamitan.

Pertanyaan yang belum sempat saya lemparkan tadi seolah-olah terjawab dari postingan seorang tokoh yang saya follow melalui portal sosial media. Persisnya dia mengatakan “Semua petugas ini disamping udah dapat gaji juga dapat honor sebagai anggota team pengawas PSBB. Disamping honor juga dapat uang makan operasional dan dana taktis. Makanya badan mereka subur dan sehat.” sambil membagikan sebuah video seorang wanita cantik tanpa masker yang sedang menjalani hukuman fisik dari sejumlah petugas pria berseragam.

Gak usah mikir aneh-aneh. Hukumannya hanya disuruh berdiri jongkok beberapa kali.

Tuing… Langsung terkoneksi kenapa si sales mobil itu menambahkan kalimat “apalagi yang masuk Satgas Covid” saat menyebut kalangan PNS adalah mereka yang dianggap tetap memiliki daya beli prima ditengah pandemi saat hampir semua kalangan masyarakat tiarap dalam keterpurukan.

Selain pekerjaan yang tetap mereka miliki saat banyak karyawan di-PHK atau setidaknya dirumahkan, saat mereka masih mendapat gaji penuh saat banyak orang hanya mendapat separuh gaji atau malah tidak sama sekali, bahkan mereka mendapatkan gaji ke-13 pula.

Gaji mereka juga nggak kecil kayak dulu lagi. Saya ingat betul saat belum lulus saya mulai bekerja dengan gaji hampir 20 kali lipat PNS bergelar sarjana. Saat mereka harus bersusah payah mengetatkan ikat pinggang hanya sekedar untuk mencicil motor bebek. Sekarang gaji PNS tidak kalah bahkan sering kali lebih besar sari karyawan swasta yang setingkat. Mobil sudah menjadi hal yang biasa dimiliki PNS.

Dulu di kampung saya ada anekdot pohon petai yang tidak juga berbuah mendadak berbuah setelah diancam akan dinikahkan denhan PNS.

Sekarang. Apalagi dalam kondisi pandemi. PNS adalah golongan masyarakat paling makmur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.