Categories
Bisnis

Cara Baru Mendapat Komisi dari Hotel dan Produk Pariwisata Lain

Potensi pendapatan yang dapat dihasilkan dari komisi dalam industri pariwisata demikian besar sehingga semakin hari pemain-pemain raksasa masuk menyisihkan mereka yang tadinya bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, menggantungkan hidupnya dari situ. BacktoBALI.id membawa kesempatan itu kembali. Kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan penghasilan dari usaha mempromosikan, memasarkan, dan menjual produk-produk pariwisata Bali.

Sebagai salah satu primadona pariwisata dunia, Bali memiliki produk-produk pariwisata yang karakternya cocok untuk menyuburkan bisnis intermediary, perantara pemasaran dan penjualan. Seiring pertumbuhan industri pariwisata, usaha peyediaan fasilitas wisata terutama akomodasi turut semakin berkembang, usaha-usaha intermediary yang mendapatkan penghasilan dalam bentuk komisi juga semakin subur.

Secara tradisional bisnis intermediary produk-produk pariwisata dikuasai oleh travel agent. Meskipun di lapangan demikian banyak orang di Bali turut mengais rejeki disitu. Sopir taksi yang membantu penumpangnya mencarikan hotel misalnya.

Maklumlah saat itu masih banyak wisatawan “go show”. Turun dari airport lalu menyusuri sepanjang jalan di Kuta mencari hotel yang memiliki kamar kosong dan sesuai selera maupun isi dompetnya.

Jamannya SEO

Para praktisi digital marketing pasti sangat faham kalau salah satu sumber penghasilan dari bisnis online adalah komisi yang diperoleh dengan memasarkan dan menjualkan produk-produk orang lain. Nggak harus punya produk, nggak harus mikir tetek bengek produksi dari pengadaan bahan sampai mengelola stok, nggak harus ngurus konsumen dan memastikan mereka puas, tapi dapat penghasilan yang lumayan besar.

Di tanah air, pionir digital marketing itu bukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan sebagainya. Sebelum digital marketing digeluti banyak praktisi di kota-kota tersebut dan merebak ke tanah air, di awal tahun 2000an para pemain digital marketing bergerilya dari sejumlah warnet, menangguk dolar melalui digital marketing, dengan memasarkan produk-produk pariwisata Bali ke seluruh penjuru dunia.

Semua praktisi digital marketing saat itu menggunakan strategi yang sama, karena memang itulah satu-satunya yang tersedia, search engine, terutama SEO yang hanya memerlukan modal waktu dan ketekunan.

Produk-produk pariwisata terutama fasilitas akomodasi wisata termasuk hotel dalam berbagai strata dan villa-villa pribadi menjadi komoditi andalan karena produknya banyak, pasarnya luas dan komisinya besar.

Para pemain digital marketing ini sukses mengambil pangsa pasar yang tadinya dikuasai travel agent. Setidaknya dari sisi penjualan langsung kamar hotel atau unit villa. Travel agent yang progresif berusaha beradaptasi. Tapi transformasi digital memang tidak semudah membalik telapak tangan.

Jangan heran kalau ada pemain digital marketing yang memasarkan penyewaan villa untuk akomodasi wisata, hanya dalam beberapa tahun saja sudah bisa memiliki villa sendiri.

Tapi itu dulu …

Jamannya OTA

Situasi berubah drastis seiring hadirnya portal-portal raksasa berskala global berlabel OTA alias Online Travel Agent yang dengan kekuatan finansialnya yang sangat masif mampu menancapkan cengkraman yang sangat kuat pada kedua sisi: sisi supply dimana OTA punya kemampuan untuk menggaransi penjualan dan karenanya dapat menekan harga dan sisi demand dimana kemampuannya menakan harga pada sisi supply membuat mereka dapat memberikan harga yang sangat rendah di pasaran.

OTA menyisihkan banyak pelaku pasar yang tadinya tidak sekedar hidup tapi hidup makmur dari fungsinya sebagai intermediary, sebagai makelar, yang menghubungkan para pemilik dan pengelola produk dan konsumen.

Jika tadinya para pemain digital marketing sukses mengambil alih bagian besar pangsa pasar dari travel agent, sekarang giliran OTA mengambil alih pangsa pasar dari para pemain digital marketing. Bukan hanya sebagian, bukan hanya sebagian besar, tapi hampir seluruhnya.

Jangan heran kalau sejak kehadiran OTA, bukan hanya sebagian, bukan hanya banyak, tapi hampir semua pemain digital marketing yang mengandalkan produk pariwisata gulung tikar.

Jamannya Google

Sekarang coba buka Google dan lakukan pencarian untuk produk-produk pariwisata terutama akomodasi. Ambil contoh saja, search dengan keyword “hotel di Kuta”.

Yang muncul di bagian atas halaman daftar pencarian – biasa dikenal sebagai SERP alias search engine result page – adalah daftar hotel, baik dalam bentuk daftar maupun dalam bentuk titik-titik pada peta. Selain itu ada juga fasilitas dimana kita dapat mengisi periode meginap yang kita inginkan sehingga Google tidak hanya menampilkan hotel-hotel yang sesuai dengan keyword tetapi juga memiliki kamar kosong pada periode menginap yang kita inginkan.

Kalau kita click salah satu hotel di kolom kiri, kita akan dibawa ke halaman detail dari hotel tersebut kemudian diarahkan untuk menyelesaikan proses booking melalui salah satu portal OTA.

Halaman detail hotel ini masih di dalam URL-nya Google. Kita baru pindah ke website OTA setelah kita click tombol “visit site” salah satu OTA dari daftar yang disediakan. Di halaman itu Google menyedikan daftar yang berisi sejumlah OTA terkemuka lengkap dengan tombol yang akan membawa kita ke halaman untuk menyelesaikan proses booking di masing-masing website OTA itu.

Di sisi ini sepertinya Google bermain sebagai agregator OTA.

Kalau kita click pada salah satu titik pada peta di kolom kanan, kita juga akan mendapatkan halaman detail mengenai hotel yang kita click. Tetapi kita tidak mendapatkan daftar OTA untuk menyelesaikan proses booking. Disini kita diarahkan untuk menyelesaikan proses booking melalui website hotelnya sendiri melalui tombol “Book on hotel site”.

Sepertinya untuk fasilitas ini Google menggunakan data Google My Business dari masing-masing hotel.

Tapi ceritanya akan berbeda kalau kita menggunakan fasilitas pencarian periode menginap. Kalau kita menentukan periode menginap saat melakukan pencarian, baik click dari daftar di kolom kiri maupun click pada peta di kolom kanan, penyelesaian bookingnya akan diarahkan melalui OTA.

Sepertinya Google mengambil data “availability” alias ketersediaan kamar berdasarkan periode menginap yang ditentukan pengguna melalui OTA.

Gigit Jari

Baru di bawahnya lagi ada daftar link website dan halaman web seperti SERP normal dimana halaman web manapun bisa masuk kalau memang dari sisi SEO cukup mumpuni untuk mendapatkan ranking yang tinggi.

Artinya kalau kita menggunakan website sendiri untuk memasarkan hotel, sehebat apapun SEO kita sehingga bisa dapat ranking sangat bagus pada keyword yang sangat kompetitif, tetap saja hampir tidak ada artinya. Saya kira semua fahamlah kalau keyword untuk produk-produk pariwisata, apalagi hotel, tingkat kompetisinya luar biasa. Tapi kalau di atas sudah keduluan disodok Google sendiri.

Memang apapun kalau bandar ikut main ya bubar.

Cara BARU Dapat Komisi dari Hotel

Nah sekarang apa mau gigit jari terus pulang, atau mencari cara lain untuk bisa tetap mendapatkan komisi dari memasarkan produk pariwisata, khususnya akomodasi hotel dan villa?

Pasti pilihan awalnya mencari cara lain. Tapi kalau sudah muter-muter mencari cara lain nggak ketemu juga, nggak salah juga sih putus asa.

Sekarang ada cara baru untuk mendapatkan komisi memasarkan pr0duk-produk pariwisata Bali, termasuk akomodasi hotel dan villa.

Cara baru yang diperkenalkan oleh BacktoBALI.id ini menggunakan viralitas media sosial untuk mempromosikan, memasarkan, dan menjual produk-produk pariwisata Bali. Sebetulnya ada juga produk-produk Bali lain. Tapi sepertinya mereka yang terbiasa memasarkan produk pariwisata akan cenderung untuk mengarahkan fokusnya kesitu dulu.

Ada beberapa kelebihan pemanfaatan viralitas media sosial sebagai media promosi, pemasaran dan penjualan sehingga kita masih punya kesempatan besar untuk menghasilkan penjualan.

Pertama kita tidak kalah bersaing dengan bandar sendiri seperti Google atau pemain-pemain kakap seperti OTA seperti dalam gambaran yang saya ceritakan tadi. Kita mungkin bersaing dengan pemain besar, tapi tidak ada yang punya privilege khusus seperti yang “diberikan” Google pada OTA.

Kedua produk yang kita tawarkan tidak langsung dijejer dengan produk kompetitor. Kalau kita mempromosikan Hotel A dalam postingan media sosial misalnya, hanya itu saja yang pada saat itu dilihat target. Coba bandingkan, misalnya, dengan SEO. Dengan ranking bagus kita bisa masuk halaman pertama, tapi langsung sudah dijejer dengan 9 lain di halaman pertama saja.

Ketiga kita berpromosi dengan cara yang lebih halus. Tidak “hard sell”. Alih-alih menjual kita lebih terkesan memberikan rekomendasi. Memang dalam hal ini keahlian kita membuat konten, copywriting, menjadi sangat penting. Biar kita menjual tanpa orang yang merasa dijuali.

Bergabung dengan BacktoBALI.id

BacktoBALI.id menggunakan istilah “social seller” untuk mereka yang membantu mempromosikan, memasarkan, dan menjualkan produk-produk Bali yang disediakan merchant.

Untuk menjadi social seller BacktoBALI.id, tinggal kunjungi saja websitenya, https://backtobali.id, dan klik tombol kuning bertuliskan “Mau Cuan Tambahan?” di kanan atas layar lalu ikuti prosesnya. Sangat sederhana koq. Cuma perlu data-data sederhana seperti nama, nomor handphone dan alamat email. Lalu kita sudah bisa mulai mempromosikan produk-produk yang di website.

Komisinya berapa?

Komisi untuk masing-masing produk berbeda-beda karena merchant memiliki kebebasan untuk menentukan berapa komisi yang akan dia berikan pada social seller yang menutup penjualan. Batas minimalnya 5%. Jadi sekurang-kurangnya social seller dapat 5%. Angka ini tertera jelas pada data masing-masing produk di website, jadi kalau mau memilih membantu mempromosikan yang komisinya besar saja misalnya, ya bisa saja.

Tapi selain besaran komisi, sebaiknya perhatikan juga potensi terjualnya. Pilih komisi besar tapi hanya terjual satu dua saja, atau komisi lebih kecil tapi bisa jual banyak?

Pastinya yang paling oke ya jual banyak yang komisinya besar. Cuma biasanya hidup tidak sesempurna itu kawan.

Content is King

Istilah “content is king” sudah ada sejak jaman kejayaan SEO, dimana Google sebagai search engine paling dominan menjadikan konten berkualitas sebagai parameter utama kelayakan sebuah website mendapat ranking yang baik.

Di era media sosial, konten tetap menjadi sesuatu yang sangat strategis.

Content Marketing is the Only Marketing Left.

Seth Godin

Untuk menjadi social seller yang sukses kita harus mengasah kemampuan membangun konten yang baik. Mampu menarik orang untuk memperhatikan dan mampu mempengaruhi keputusan mereka membeli. Namanya mengasah pastinya tidak langsung tajam. Bersama BacktoBALI.id social seller bisa mempelajari dan mempraktekan kemampuan membuat konten secara berkesinambungan.

Formatnya bisa apa saja. Visual seperti video, foto, atau karya grafis lainnya, maupun tekstual, baik yang pendek seperti tweet atau caption posting, maupun yang panjang seperti posting blog.

Leave a Reply

Your email address will not be published.