Categories
Opini

Cabul Apa Maho?

Jagat maya +62 hari ini ramai dengan paha mulus. Yang bermula dari cuitan seorang politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana, yang menyoroti para Calon Kepala Daerah (Cakada) dan Calon Wakil Kepala Daerah (Cawakada) yang akan berlaga pada ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan datang.

Untuk Pilkada serentak mendatang memang saat ini sudah sampai pada tahapan pendaftaran Cakada / Cawakada di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) masing masing wilayah. Karena itu sekarang publik mulai tahu siapa saja pasangan yang maju, lengkap dengan partai-partai politik pengusungnya. Kalau kemarin-kemarin baru wacana, sekarang sudah fixed, sudah confirmed.

Seorang politisi mengomentari Cakada / Cawakada yang berlaga memang hal yang biasa saja. Persoalannya si politisi yang satu ini, kita singkat saja lah namanya CPL, toh pebdukung juragan dia juga yang memelopori penyingkatan-penyingkatan nama ini dengan menyingkat nama Susilo Bambang Yudhoyono jadi SBY, komentarnya tidak pada hal-hal yang wajar untuk disoroti dalam diri para kontestan Pilkada.

Dalam cuitan melalui akun Twitter pribadinya CPL mengatakan “Paha calon wakil walikota Tangsel itu mulus banget”.

Cabul?

Wajar kalau semua mata tertuju pada sosok Rahayu Saraswati Djojohadikusumo alias Sara, putri konglomerat Hashim Djojohadikusumo, keponakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Sara diusung oleh koalisi yang dimotori Partai Gerindra dan PDI Perjuangan untuk maju menjadi Calon Wakil Walikota Tangerang Selatan berpasangan dengan Calon Walikota Muhammad. Dalam koalisi itu ada juga sejumlah partai lain yaitu PSI, PAN, Hanura, Nasdem, Perindo, Partai Garuda, dan Partai Berkarya.

Mengapa kita berfikir kalau yang dituju dalam cuitan CPL itu sosok Sara? Karena wajarnya kalau kita bicara paha mulus rujukannya pada paha wanita. Rasa-rasanya kita tidak pernah mendengar seseorang berbicara soal paha mulus yang ditujukan pada seorang pria.

Tidak bisa dipungkiri, paha merupakan salah satu bagian tubuh wanita yang secara seksual menarik perhatian pria. Dalam budaya timur, membicarakan keindahan paha seorang wanita di ruang publik itu sesuatu yang tabu, tidak sopan, kurang ajar, cabul, amoral. Mulus, dalam referensinya pada paha, memang sesuatu yang positif. Bisa dikatakan pujian.

Tapi bahkan sebuah pujianpun tidak bisa sembarangan diucapkan. Berani mengatakan “Pahamu mulus.” pada seorang wanita yang bukan pasangan kita mungkin akan berbuah tamparan. Kalau mengatakannya di depan pasangan si wanita, bisa jadi bukan sekedar tamparan malah golok yang bicara.

Jadi sangat wajar kalau Sara marah bahkan berniat melaporkan CPL ke polisi. Justru kalau Sara tidak marah kita justru jadi mempertanyakan moralitasnya.

Maho (yang Cabul)?

Makin konyolnya, menanggapi pemberitaan tentang kemarahan Sara dan sejumlah tokoh partai-partai pendukungnya, CPL bukannya sadar justru berkelit dengan cara yang sangat kampungan. Diberitakan detik.com dia mengatakan “Tidak ditujukan ke siapa-siapa. Toh saya tidak menyebut nama siapa-siapa”. Sementara atas asumsi kalau itu ditujukan kepada sosok Sara dia mengatakan “Biar saja orang berasumsi. Bebas kok.” Dia juga terkesan menganggap enteng kekecewaan Sara dengan mengatakan “Hak dia kecewa. Toh saya tidak nyebut nama dia.”

Meskipun tidak menyebut nama, CPL eksplisit menyebut “calon wakil walikota Tangsel”. Kalau dia pria normal, tentu yang dituju Sara, satu-satunya wanita yang maju menjadi calon wakil walikota Tangsel. Itu cabul. Tapi kalau dia berkelit dengan membangun kesan kalau itu tidak ditujukan pada sosok Sara, artinya pada calon-calon wakil walikota Tangsel lain yang semuanya pria. Kalau seorang pria melontarkan ucapan ” pahanya mulus” pada pria lain, paling logis ya dia maho. Maho yang cabul.

PD Mana Suaranya?

Mas AHY selaku Ketum Partai Demokrat, Pak SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat masih diam. Bapak-bapak harus segera turun tangan Pak. Tidak ada pilihan lain selain memecat orang yang berbuat amoral seperti ini. Dia mencoreng kredibilitas Mas AHY dan Pak SBY yang selama ini kita kenal sebagai sosok yang sangat santun.

Apalagi CPL ini juga bukan orang sembarangan di Partai Demokrat. Bukan hanya sekedar kader saja. CPL menduduki jabatan Deputi Isu dan Narasi Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat.

Maling Teriak Maling

Saya menebak-nebak maunya CPL ini. Mungkin dia ingin mencuri start dengan black campaign terhadap lawan-lawan dari calon yang diusung oleh partainya. Meskipun jauh dari etis, black campaign memang sering dipakai untuk membangun kesan bahwa calon-calon lawan buruk dan karenanya tidak layak pilih. Alih-alih memamerkan kebaikan calon yang diusungnya, mereka yang menggunakan cara ini memilih untuk mengeksploitasi keburukan lawan.

Dalam tradisi timur dan ajaran agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia termasuk Kota Tangsel, wanita seharusnya menutup bagian-bagian tubuhnya, terutama yang secara seksual menarik bagi pria. Paha salah satunya. Mereka yang melanggar bisa dikait-kaitkan dengan karakter negatif terutama dari segi moralitas. Orang boleh berdebat mengenai salah benar cara orang berpakaian, tapi norma tradisi dan aturan agama tidak bisa kita nafikkan apalagi bagi mereka yang mengajukan diri untuk dipilih menjadi pejabat publik.

Sepertinya CPL berusaha menghubungkan sosok Sara yang merupakan lawan dari calon yang diusungnya dengan karakter yang melawan norma tradisi dan aturan agama, membiarkan pahanya terbuka sehingga kemulusannya bisa dilihat orang.

Kesan apa yang mau dia bangun terhadap Sara? Pengumbar aurat? Amoral? Tapi sadarkah dia kalau sekarang justru dia sendiri yang jelas-jelas melakukan perbuatan cabul, amoral.

Saya bukan pendukung Sara dan pasangannya. KTP saya bukan Tangsel. Saya juga bukan simpatisan apalagi kader partai-partai pendukungnya. Siapa yang menang dan menjadi Walikota dan Wakil Walikota Tangsel saya nggak peduli.

Tapi untuk kelakuan CPL ini, satu kata yang bisa saya ucapkan. Menjijikkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.