Categories
Opini

Boikot Produk Perancis

Tudingan penghinaan terhadap agama Islam yang dialamatkan pada Perancis telah membuat gelombang perlawanan dari Umat Islam di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Umat Islam Indonesia. Selain sejumlah protes dan demo, banjir kecaman, ada juga seruan untuk memboikot produk-produk Perancis.

Nampaknya seruan boikot ini dasar pemikirannya sangat sederhana. Jangan membeli produk-produk yang dihasilkannya itu sehingga negara itu akan menderita akibat tekanan ekonomi. Terlalu sederhana sebetulnya. Entah karena menyederhanakan masalah yang sebetulnya rumit atau memang hanya sebatas itu saja pemahamannya.

Orang Perancis yang Mana?

Gejolak yang melibatkan aksi kekerasaan berdarah ini dimulai saat seorang guru di Perancis disebut membawa dan menunjukkan karikatur yang disebutkan sebagai Rasulullah, Muhammad SAW. Lalu guru tersebut ditemukan tewas dengan kepala terpenggal. Penyelidikan polisi menunjukkan bahwa guru yang tewas itu dibunuh oleh orang keluarga salah satu murid si guru yang marah terhadap tindakan yang dianggap melecehkan Rasulullah, menghina Islam.

Menanggapi peristiwa itu, Presiden Perancis, Emmanual Macron membuat pernyataan yang justru memperdalam luka hati Umat Islam. Seperti menyiram api dengan bensin, amarah Umat Islam yang tadinya tertuju pada si pembuat karikatur kemudian melebar menjadi luapan kebencian terhadap satu negara. Wajar saja. Guru yang tewas, meskipun orang Perancis, tapi dia cuma satu orang. Pembuat karikatur dan majalah yang memuatnya, cuma beberapa orang. Tapi Macron seorang Presiden. Sosok representasi negara. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya dengan mudah dianggap sebagai suara Perancis.

Menyusul pernyataan Macron, tiga orang lain di Perancis terbunuh di tangan seorang pemuda Islam garis keras dengan cara yang tidak kalah tragis. Sebagian berita menyebut salah satu dari ketiga korban baru itu kepalanya dipenggal, sementara berita lain menyebut digorok. Atau yang dipenggal dan yang digorok itu korban yang berbeda, entahlah. Yang jelas kekejian itu menggambarkan amarah yang luar biasa.

Apa hubungan antara ketiga korban yang terbunuh belakangan, guru yang tewas duluan, pembuat dan penerbit karikatur, atau Macron Sang Presiden? Sepertinya sama-sekali tidak ada. Apa kesamaan diantara mereka semua? Apakah mereka melecehkan Muhamad Rasulullah? Atau mereka menghina Islam? Rasa-rasanya kesamaan yang jelas cuma satu, orang Perancis.

Apa iya semua orang yang kebetulan merupakan warga negara Perancis harus menanggung kesalahan segelintir warga negara lainnya?

Jangan lupa. Umat Islam di Perancis juga tidak sedikit lho!

Produk Perancis yang Mana?

Globalisasi membuat sekat antar negara dalam dunia bisnis jadi tidak relevan lagi.

Mari lihat contoh yang sangat sederhana. Kita boleh berbangga kalau salah satu dari sedikit perusahan rintisan dengan valuasi raksasa ada di Indonesia. Gojek terasa sangat Indonesia. Didirikan di Indonesia oleh pemuda-pemuda Indonesia dengan roh layanan yang “sangat Indonesia” pula. Mana ada sih tukang ojek di Silicon Valley sana? Sekarang berapa persen sahamnya yang dimiliki orang Indonesia?

Ada berapa merk beraroma Perancis yang beredar di pasaran tanah air? Banyak. Salah satu yang menjadi sorotan saat ini adalah Aqua yang di dalam setiap botol produknya sekarang tertempel merk Danone, raksasa produk-produk makanan dan minuman yang berpusat di Perancis. Tak pelak, ajakan memboikot Aqua pun mulai menggema.

Sebesar apa sih kerugian ekonomi Perancis kalau Aqua diboikot?

Aqua itu dirintis oleh orang Indonesia puluhan tahun lalu, dan berhasil mendobrak dominasi produk air mineral lain yang lebih dahulu ada di pasar tanah air, Vit, yang diluar negeri lebih populer dengan merk yang sama dengan merk induk usahanya, Vittel. Dari namanya aja udah ketahuan dong itu dari negara mana datengnya. Biar gak usah tebak-tebakan, Vittel itu juga nama tempat, di Perancis sana.

Setelah mengoperasikan fasilitas produksi pertama mereka di Bekasi, mereka juga kemudian meningkatkan kapasitas produksinya dengan membangun pabrik lain di Sidoarjo.

Danone baru belakangan masuk. Skemanya, membuat perusahaan yang pemegang saham utamanya adalah pendiri Aqua dan Danone.

Danone sendiri perusahaan global dengan investasi dimana-mana. Kalaupun Aqua bangkrut, pengaruhnya terhadap keseluruhan portfolio investasi mereka di seluruh dunia berapa besar sih?

Orang-orang bijak bilang “jangan taro semua telur yang kamu miliki di satu keranjang”. Danone taro banyak telur di banyak keranjang. Mereka akan menjaga supaya tidak ada telur yang pecah. Tapi kalaupun ada satu telur pecah, gak banyak pengaruhnya. Bahkan kalau satu keranjang isinya pecah semuapun mereka masih punya banyak keranjang penuh telur lainnya.

Pengaruhnya sebesar apa terhadap perekonomian Perancis? Hehehe. Yang bener aja. Gini aja contohnya. Gerai McD di Pantai Kuta, Bali, yang sangat populer itu, tutup. Sayang? Jelas lah. Apa pengaruhnya terhadap McD? Mungkin tiap hari juga ada gerai McD tutup entah di pojokan dunia yang mana. Pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia? Gak ada. Karena McD merk asa Amerika, ada pengaruhnya terhadap perekonomian negara itu? Hehehe.

Siapa Yang Rugi?

Yang paling buruk terdampak kalau sampai Aqua ambruk adalah entah berapa ribu orang Indonesia yang menggantungkan hidup dengan bekerja di perusahaan itu, dan banyak perusahaan lain yang beroperasi untuk melayani Aqua. Sebut saja contohnya truk-truk pengangkut galon misalnya.

Orang mana mereka?

Mayoritas agamanya apa mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published.