Categories
Opini

Ada Apa Dengan Logo Halal?

Baru-baru ini pemerintah melalui Kementerian Agama mengumumkan logo halal baru yang akan menggantikan logo halal yang selama ini kita kenal dipergunakan melabeli produk-produk yang mengantongi sertifikat halal. Dan seperti banyak hal lain yang terjadi di negeri +62 ini, aneka komentar dan pendapat negatif menjamur di dunia maya. Meskipun saya tidak termasuk orang yang punya aktivitas ekstensif dan jaringan luas di media sosial, timeline saya dua hari terakhir ini juga penuh dengan kontroversi logo halal baru itu.

Kenapa mesti diganti? Entahlah.

Saya nggak beneran mudeng alasan yang membuat pemerintah merasa perlu untuk mengganti logo halal yang selama ini biasa kita lihat. Tapi kalo buat saya sih kalopun pemerintah mau mengganti ya terserah saja. Bukan saya menganggap remeh esensi label halal itu. Tapi saya lebih melihat kalau keputusan penggantian logonya bukanlah sesuatu yang demikian esensial sehingga perlu dipolemikkan. Atau ya setidaknya saya tidak menganggap mempolemikkan penggantian logo itu sesuatu yang begitu penting sehingga saya merasa harus ikutan buang waktu.

Emang kalo logonya berubah terus esensinya turut berubah? Saya yakin tidak. Lalu ngapain diributin?

Apa aja sih yang diributin orang-orang dengan logo halal baru itu? Macem-macem. Dari yang menyoroti bentuknya yang mirip gunungan wayang kulit sehingga dikatakan tidak mewakili kenusantaraan tetapi hanya merepresentasikan tradisi suku tertentu saja sampai ada yang membuat teori demikian canggih yang kemudian menyimpulkan kalau tulisan pada logo halal itu justru dibacanya jadi HARAM.

Saya memang bukan ahli dalam entah apalah bidang yang mempelajari tata bahasa atau tata tulisan Arab yang menjadi bahasa yang digunakan Allah SWT dalam menurunkan wahyu-Nya dan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam mengajarkan syiarnya.

Tapi buat saya Presiden tidak mungkin memilih sosok yang tidak cukup faham Agama Islam mejadi Menteri Agama di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Menteri Agama itu juga tidak berfikir dan bekerja sendirian. Ada jejeran pakar dengan kompetensi tak terbantahkan bekerja bersama masing-masing menteri. Apalagi Menteri Agama saat ini juga sosok yang sangat kredibel dari sisi pemahaman agamanya. Sebagai putera dari salah satu ulama paling berpengaruh di lingkungan NU, mempertanyakan pemahaman Gus Yaqut soal Agama Islam itu bagi saya adalah sebuah kebodohan.

Jadi kalau buat saya mereka yang mempolemikkan logo halal baru, apalagi dipelesetkan kesana kemari menjadi bahan olok-olokan sampai ada yang mengutak-atik menjadi minyak goreng langka dan mahal itu justru menghinakan esensi.

Buat apa sih?

Saya memperhatikan sosok-sosok yang mempropagandakan pertentangan terhadap logo halal baru itu dan orang-orang yang aktif menyebarkan dan meng-amplify-nya di jaringan media sosial. Orang-orangnya itu sebetulnya sih orang-orang yang sama dengan mereka yang membela organisasi yang memang selama ini paling rajin mengumandangkan suara miring terhadap NU bahkan ada segelintir tokoh-tokohnya yang secara terbuka mencaci dan menghina ulama-ulama NU, termasuk sosok Yaqut Cholil Qoumas yang menjadi Meteri Agama saat ini.

Mereka juga juga rajin mendikotomikan konsep Islam Nusantara yang digaungkan oleh ulama-ulama NU dengan membenturkannya pada narasi “anti-Arab” dan tuduhan penghinaan terhadap para habaib seolah-olah lupa kalau di kalangan NU juga ada banyak habaib.

Buat saya sih yang lebih penting dari sekedar logo itu esensinya. Esensi dari assessment dan labelisasi produk yang aman untuk dikonsumsi para pemeluk Agama Islam yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini. Lebih penting untuk mempermudah – baik dari segi proses maupun pembiayaaan – agar para pengusaha kecil sekalipun bisa mendapatkan sertifikat halal untuk produk yang dibuat dan dijualnya.

Stigma sertifikat halal itu hanya dapat dimiliki produk-produk milik perusahaan-perusahaan besar yang sanggup memenuhi syarat dan biaya untuk mendapatkan sertfikat halal itu harus dihapus dengan langkah-langkah nyata.

Kalau masyarakat mau mengawasi, mau bersuara, itulah yang lebih penting untuk disuarakan. Kecuali kalau memang punya agenda tersendiri yang berbeda dari esensi sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.