Categories
Opini

Teror Bom Makassar

Serangkaian operasi pengungkapan jaringan terorisme di tanah air oleh aparat keamanan khususnya Detasemen Khusus Anti-Teror Kepolisian Negara Republik Indonesia (Densus-88 Polri) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) rupanya tidak menyurutkan keinginan segelintir orang untuk menyebar kekejaman. Saat sejumlah rencana aksi teror digagalkan sebelum terjadi, kita disentak dengan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar.

Dalam berita yang dirilis sejumlah media online disebut bahwa pelaku aksi itu dua orang, pria dan wanita, dengan pakaian yang mencirikan kalau mereka penganut Agama Islam. Pelaku tewas di tempat kejadian dengan tubuh hancur, sementara sejumlah orang lain yang merupakan petugas keamanan gereja dan jemaah yang baru selesai beribadah terluka.

Mambawa Identitas Agama

Sejumlah kalangan, pejabat pemerintah, petinggi institusi keamanan negara, pemimpin Ormas keagamaan, tokoh masyarakat, langsung bereaksi dengan menyatakan keprihatinan sembari mengutuk keras aksi kekerasan itu. Banyak diantaranya sambil menyisipkan pesan bahwa aksi itu merupakan aksi teror, kriminal murni, tidak ada hubungannya dengan agama.

Saya pribadi tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan itu. Meskipun jelas tidak ada agama yang mengajarkan kekejian seperti aksi yang mereka lakukan, mereka membawa identitas keagamaan. Pelaku menampilkan diri dengan atribut yang merupakan ciri khas Umat Islam dan melakukan penyerangan terhadap tempat ibadah Umat Kristen. Disengaja ataupun tidak, konstruksi aksi itu jelas memicu sentimen keagamaan sehingga tidak bisa begitu saja dipisahkan dari persoalan keagamaan.

Faktanya orang-orang tertentu menggunakan identitas Islam untuk memotivasi orang lain melakukan tindakan kriminal berupa aksi teror. Itu tidak bisa dipungkiri. Membersihkan Umat Islam dari ajaran menyimpang itu menjadi pekerjaan rumah berat bagi pemerintah, organisasi keagamaan, dan para ulama.

Melawan Ajaran Islam

Para pelaku teror dan mereka yang memotivasi mereka melakukannya, meskipun membungkus dirinya dalam pakaian yang menunjukkan identitas Islam dan membungkus ajarannya dalam kaidah Islam, pada kenyataanya justru mengajarkan dan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Islam mengajarkan harmoni, tolong-menolong, dan saling menghormati, termasuk dengan mereka yang berbeda keyakinan, penganut ajaran agama lain sekalipun. Dalam ajaran Agama Islam, ketegasan termasuk kekerasan fisik hanya dibenarkan untuk membela diri, bukan untuk menyerang.

Kepada umat Islam diperdengarkan banyak kisah tentang Rasulullah dan para sahabatnya. Bagaimana mereka berperang dan bagaimana mereka menebar kedamaian. Adakah pernah dikisahkan Rasulullah tiba-tiba menyerang orang atau sekelompok orang penganut agama lain yang sedang beribadah di rumah ibadah mereka sendiri?

Penghinaan Hakiki Terhadap Islam

Ketika sejumlah kalangan terutama mereka yang datang dari golongan Islam konservatif garis keras mengaitkan banyak kejadian sederhana dengan penghinaan terhadap agama Islam, saya kira aksi terorisme yang dilakukan dengan label Islam, didoktrinkan sebagai jihad di jalan Allah dengan imbalan surga lengkap dengan 72 bidadarinya yang membuat seorang penceramah muda kemudian mengatakan kalau surga merupakan tempat pesta sex yang halal, itu penghinaan hakiki terhadap agama Islam.

Kita mengenal Allah sebagai Al Rahman dan Al Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita mengetahui bagaimana Rasulullah mengasihi semua umat manusia termasuk orang mencaci, menghina, bahkan memfitnahnya.

Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang membunuh dengan keji orang-orang karena berbeda agama, karena mereka rakyat dari pemerintah yang bersahabat dengan negaranya kaum Yahudi, karena mereka minum khamr, masyarakatnya terbiasa dengan seks bebas, dan perbuatan maksiat lainnya, dan melabelinya dengan jihad di jalan Allah.

Katakanlah benar tuduhan mereka mengenai perbuatan maksiat yang mereka lakukan. Siapa yang memberi mereka hak untuk menentukan hukuman dan menjatuhkannya? Bukankah itu hak mutlak Allah untuk mengampuni atau menghukumnya, entah dengab azab di dunia, siksa di alam kubur, atau panasnya api neraka? Kurang ajar sekali mereka berani mengambil alih kuasa Allah dengan menentukan sendiri hukuman dan menjatuhkannya.

Melakukan perbuatan keji dengan dalih jihad di jalan Allah sama saja dengan mengatakan kalau Allah memerintahkan mereka melakukan kekejaman itu. Kalau memfitnah orang saja merupakan dosa besar, bagaimana dengan memfitnah Allah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.