Categories
Filosofi Opini

Senggol-Senggolan di Jalanan

Insiden miris terjadi saat seorang ibu muda meregang nyawa di jalanan akibat kecelakaan yang disebabkan kelalaian pengendara lain.

Ooops … salah. Bukan kelalaian. Karena polisi menjelaskan kalau si penyebab kecelakaan itu memang dengan sengaja melakukan manuver yang membahayakan pengendara lain, meskipun tindakannya itu memang tidak spesifik ditujukan untuk mencelakakan korban.

Kita pastinya biasa mendengar ekspresi kepedulian dalam bentuk kalimat pendek “Hati-hati ya …”, saat kita akan pergi. Entah diucapkan keluarga dekat saat kita berangkat dari rumah untuk beraktivitas, atau teman-teman saat kita beranjak pulang setelah ngumpul-ngumpul misalnya.

Sayangnya kehati-hatian kita sendiri itu tidak serta merta menjamin keselamatan kita dalam perjalanan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kemungkinan kita terlibat dalam kecelakaan selain ketidak hati-hatian kita sendiri. Kondisi kendaraan dan situasi lalu lintas misalnya, bisa membuat kehati-hatian kita seolah sia-sia. Tapi kalau kita berhati-hati, faktor yang paling sering menimbulkan kecelakaan adalah perilaku pengguna jalan lain.

Saya membayangkan itulah pesan yang diterima si ibu muda itu saat meninggalkan rumah. Entah dari siapa, entah dengab siapa saja dia tinggal, mungkin suami, kakak, adik, ibu, ayah. Mungkin dia juga berkendara dengan sangat berhati-hati. Tapi apalah artinya kehati-hatian kalau tiba-tiba sebuah mobil tiba-tiba meluncur dengan kecepatan dan dari arah yang sama-sekali tidak mungkin terantisipasi?

Meregang nyawa di tempat kejadian, tanpa sempat mengucapkan kata-kata perpisahan apalagi memikirkan masa depan orang-orang yang dikasihinya. Suami, mungkin setelah terkendali dukanya bisa menikah lagi. Anaknya? Kasih sayang seorang ibu tidak mungkin tergantikan. Apalagi untuk anak yang masih kecil. Koq tahu dia punya anak? Kan disebut dia seorang “IBU muda”. Koq tau anaknya masih kecil? Kan disebut dia seorang “ibu MUDA”.

Menurut penjelasan polisi yang dikutip sejumlah media berita yang kemudian terkonfirmasi dari rekaman CCTV yang tersebar di jagat maya, Toyota Innova silver meloncati marka jalan sehingga bertabrakan dengan 3 sepeda motor di jalur berlawanan arah karena dipepet dari sisi kiri oleh mobil lain, sebuah Hyundai hitam.

Kalau melihat rekaman CCTV-nya sih tidak sekedar mepet. Tepatnya menyenggol. Dengan sengaja. Hyundai hitam mendahului dari sisi kiri, setelah kepalanya sedikit nongol dia membanting ke kanan menghantam hidung Innova silver dari sisi kiri. Akibat hantaman itu Innova silver meloncati marka – yang memang tidak terlalu tinggi – nyelonong menyeberangi jalur kanan bertabrakan dengan 3 sepeda motor yang berjalan beriringan dari arah yang berlawanan, dan baru terhenti di halaman parkir gedung yang berada di sisi seberang.

Disebutkan kalau di depan polisi pengemudi Hyundai hitam mengaku sengaja memepet Innova silver untuk menghentikannya. Konon si pengemudi Hyundai hitam yang kemudian ditahan polisi itu memaksa Innova silver untuk berhenti untuk menuntut pertanggungjawaban karena dia dipukul oleh pengemudi Innova silver yang belakangan diketahui seorang polisi itu, dalam insiden yang terjadi beberapa saat sebelumnya, hanya beberapa ratus meter dari lokasi tabrakan yang merenggut nyawa si ibu muda itu.

Percekcokan diantara kedua pengemudi yang konon diwarnai pemukulan itu disebutkan terjadi akibat pengemudi Hyundai hitam tidak tidak terima jalannya dipotong Innova silver. Yang ini sepertinya baru sebatas pengakuan pengemudi Hyundai hitam, polisi belum mendapatkan bukti lain, baik soal pemukulannya maupun manuver memotong jalannya.

Saya sendiri tidak percaya kalau pengemudi Hyundai hitam itu hanya bermaksud menghentikan. Dari caranya menghantam, saya yakin pengemudi Hyundai hitam memang ingin mencelakai pengemudi Innova silver.

Kenapa saya berfikir begitu?

Kalau dia ingin menghentikan, harusnya dia menyalip sampai seluruh badan kendaraannya melewati Innova silver, lanjut sedikit lagi untuk memberi sedikit jarak supaya pengemudi Innova silver ada ruang untuk menghentikan mobilnya, baru dia pepetkan mobilnya ke kanan untuk memblokir jalan.

Kalau dia hantam dari sisi kiri depan, itu bukan menghentikan tapi memang dengan sengaja “ngejongkrongin” Innova silver ke jalur dimana kendaraan dari arah berlawanan berjalan. Apa lagi tujuan logisnya kalau bukan mencelakakan si pengemudi Innova silver?

Dia ingin mencelakakan orang yang katanya sudah memukul dia? OK kita ikuti jalan pikirannya. Tapi kalau si pengemudi Innova itu celaka seperti yang dia harapkan setelah dia jongkrongin ke jalur berlawanan, tidakkah dia berfikir kalau kecelakaan itu pasti melibatkan juga pengemudi kendaraan dari arah berlawanan? Katakanlah pengemudi Innova silver itu “berdosa” kepadanya sehingga dia merasa berhak membalas dengan mencelakakannya. Orang yang berkendara dari arah berlawanan dan bertabrakan dengan Innova silver itu kan nggak punya dosa apa-apa. Sama dia maksudnya, namanya orang kalau dosa pasti banyak.

Dan itulah yang persis terjadi. Akibat senggolan itu, Innova silver memang loncat ke jalur kanan, memang mengalami kecelakaan bertabrakan dengan kendaraan yang berjalan dari arah berlawanan. Tapi siapa yang menjadi korban? Pengemudi Innova silver itu turun dari mobilnya dalam keadaan sehat walafiat. Salah satu pengendara motor yang bertabrakan dengannyalah yang menjadi korban.

Cukup sampai disitu? Tidak sama sekali. Suaminya tiba-tiba menjadi duda, kehilangan istri yang dicintainya lalu harus membesarkan anaknya sendiri. Bisa saja setelah masa duka berlalu dia bisa move on, menikah lagi. Anaknya kehilangan kehangatan kasih seorang ibu selamanya. Tidak akan tergantikan.

Apa yang membuat pengemudi Hyundai hitam itu demikian kejam? Mungkin memang bukan itu tujuannya. Tapi harusnya dia tahu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi akibat tindakkannya itu. Mestinya nggak kaget dia kalau kemungkinan terburuk itulah yang kemudian memang ternyata terjadi.

Setan?

Jelas bukan lah. Jangan nyalahin sesuatu yang nggak bisa ditunjuk jidatnya langsung. Emosi. Dia membiarkan emosi mengambil alih kendali seluruhnya. Jiwa dan raga, otak dan hati, pikiran dan perasaan. Semua nggak main lagi karena kendalinya sudah diambil alih oleh emosi.

Saya yakin setelah dia sempat diam dan merenung si pengemudi Hyundai hitam ini akan menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Kalaupun benar dia kena pukul dalam percekcokan sebelum insiden terjadi, tidak membuatnya berhak menjadi penyebab tewasnya seseorang. Apalagi orang itu sama sekali tidak ada urusan dengan percekcokan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *