Categories
Filosofi

Hari Ibu (selalu) Kelabu

22 Desember di tanah air diperingati sebagai Hari Ibu. Sayang banyaknya peringatan yang dimanifestasikan ke dalam tanggal menjadi hari ini, hari itu, sepertinya membuat momentum Hari Ibu secara umum tidak terasa istimewa. Tapi sejak sejauh yang saya ingat, dalam tradisi keluarga saya Hari Ibu ini sangat istimewa.

Tapi itu dulu. Semenjak Ibu saya dipanggil pulang dalam usia yang relatif masih muda, belasan tahun yang lalu, tradisi itu hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanya sesak di dada yang terasa lebih berat saat momentum peringatan Hari Ibu mebangkitkan kenangan akan sosok yang ketulusan kasihnya belum sempat saya balas.

Kalau dalam sejarah Hari Ibu disebur berawal dari Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali digelar pada tanggal 22 Desember 1928, sepertinya tradisi mengistimewakan Hari Ibu di keluarga saya berasal dari nenek, ibunya ibu saya. Nenek berjuang sendiri membesarkan 7 anak setelah kakek meninggal dalam usia yang masih sangat muda. Konon saat kakek berpulang, paman saya si anak bungsi, baru berusia beberapa bulan saja, baru belajar duduk.

Hari Ibu dirayakan lebih semarak dari hari ulang tahun nenek. Hampir seperti lebaran. Biasanya, lengkap dengan aneka masakan, kue-kue, dan kado, anak-anak dan cucu-cucu yang tinggal di kota yang sama sudah berada di rumah nenek sejak sore hari sebelum tanggal 22 Desember. Semua menginap di rumah nenek sampai anak-anak dan cucu-cucu yang tinggal di luar kota datang menjelang weekend. 7 anak, 7 mantu, belasan cucu, luar biasa ramainya.

Tradisi bergeser setelah nenek berpulang sementara saya dan saudara-saudara saya mulai beranjak dewasa. Kami memulai tradisi merayakan Hari Ibu untuk ibu saya. Memang tidak semeriah dan sekhidmat seperti nenek dan anak-anaknya. Keluarga kami memang sedikit. Cucu nggak ada. Tapi kalau soal ramai sih tetap. Pusara mendiang nenek berada di makam keluarga yang hanya sepelemparan batu dari rumah kami. Saat Hari Ibu, anak-anak dan cucu-cucunya biasanya datang untuk berziarah.

Sekarang generasi sudah berganti. Selain Nenek, Ibu saya sudah berpulang, begitu juga kebanyakan saudara-saudaranya, paman dan bibi saya. Tempat peristirahatan terakhir nenek sudah jarang dikunjungi lagi. Dengan sendirinya ritual Hari Ibu hanya menyisakan kenangan.

Kepergian Ibu merupakan pukulan tersendiri buat saya. Melepas kecil sampai remaja dengan merantau menimba ilmu lalu sibuk meniti karir membuat saya merasa tidak cukup memberikan perhatian apalagi membahagiakannya. Bahkan bukan hanya tidak berada di sisinya saat beliau menghebuskan nafas terakhirnya, saya juga terpaksa merelakan beliau dimakamkan tanpa menunggu kehadiran saya.

Rasa hampa itu masih tetap ada bahkan setelah belasan tahun berlalu. Sesuatu yang hanya bisa sedikit saya ringankan dengan sejenak melipir untuk sekedar mengirimkan Al Fatihah.

Dulu-dulu biasanya saya cukup sukses melupakan momentum Hari Ibu. PA dan sekretaris saya sudah sangat hafal cara memadati agenda saya di sekitar 22 Desember. Biasanya saya baru ngeh setelah tanggal itu terlewati. Biasanya setelah kesibukan memantau operasional perusahaan yang memang luar biasa sibuk selama masa liburan Natal dan Tahun Baru selesai.

Sekarang setelah ada Facebook dan teman-temannya, susah. Mau bisa dilupakan gimana lha timeline berseliweran begitu.

Bernahagialah kalian yang masih bisa mengucapkan “Selamat Hari Ibu” sambil memeluknya, sambil mencium tangannya, sambil bersimpuh di kakinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.