Categories
Filosofi

Saya Nggak Main Game

Tumbuh bersama pertumbuhan video game lalu menjalani profesi yang hampir identik dengan maniak game, sama sekali tidak membuat saya tergerak untuk bermain game.

Saya sama sekali tidak main games. Buat saya main game itu salah satu hal terbodoh yabg bisa dilakukan manusia.

Mereka yang baru kenal saya banyak yang nggak percaya kalau saya tidak bermain game. Saat mulai percaya, dikiranya saya hanya tidak kerajingan main game tapi tetep casually main. Hanya mereka yang kenal dekat yang tahu persis kalau saya sama sekali nggak main games. Saya punya empat komputer dan dua smartphone yang saya pake. Nggak ada satupun yang ada games-nya.

Popularitas video games yang digandrungi anak-anak sebaya saat masih SD membuat banyak diantara mereka menghabiskan sore atau weekend di pusat-pusat perbelanjaan. Saya nggak ikut-ikutan. Lalu muncul gamewatch yang membuat kita bisa bermain game dimana saja. Teman-teman saya rame-rame merengek minta dibeliin orang tuanya. Saya juga nggak ikut-ikutan. Kenal komputer saat masuk SMA, ada Pacman. Saya nggak main. Mulai bekerja sudah ada Windows, game yang paling terkenal, Solitaire dan Tetris, saya juga nggak main. Apalagi yang lain.

Munculnya handphone mambuat kebanyakan orang sibuk dengan handphone bukan untuk berkomunikasi tapi main game. Snake dan Tetris versi handphone yang sepertinya paling populer. Karena by default jadi bawaan handphone dan nggak bisa dihapus, ada game-game itu di handphone saya. Sampai sekarang game-game begitu canggih dan tinggal download dan install di handphone, saya nggak ada cerita lah install games. Yang ada games bawaan di handphone-pun saya hapus-hapusin.

Cosole games, bergenerasi-generasi Nintendo, PlayStation, sampai xBox, nggak pernah saya punya. Bukannya nggak kebeli sih. Meskipun saya nggak kaya, kalau sekedar console game terbaru sih saya bisa beli tanpa mikir.

Lucu liat teman-teman sebaya saya yang umurnya jelas di rentang 40-50an pada pamer PlayStstion 5 kemarin-kemarin.

Programmer Nggak Main Game?

Salah satu yang sering dibilang orang yang baru denger kalau saya nggak main games menyerempet profesi saya saat masih muda dulu. “Masa programmer nggak main game”, atau yang mirip-mirip begitu lah. Beda-beda kata-kata kata aja palingan, tapi intinya sama.

Nggak salah-salah amat sih. Saya tahu memang banyak teman-teman seprofesi saya dulu mengisi waktu luangnya dengan main game. Ya kalau sudah kerajingan, bukan hanya mengisi waktu luang sih. Sengaja meluangkan waktu buat maib game. Dari mana waktu yang diluangkannya itu? Ya dari mana lagi kalo bukan dari waktunya kerja. Kan nggak mungkin dari jatah waktunya tidur. Lha programmer memang dasarnya nggak punya jatah waktu tidur juga kan. Ujung-ujungnya udah ketebak. Proyek molor, deadline jeblok, bug dimana-mana, ya gitu deh.

Tapi soal banyak teman-teman programmer saya yang suka main game … kayaknya yang suka sih nggak banyak ya. Yang kerajingan banyak. Hehehe. Lebih dari banyak benernya. Hampir semua kayaknya. Sedemikian banyak teman seprofesi saya, kayaknya hitung jari deh yang gak main games. Hmmm … jari telunjuk doang kali ya. Jujur-jujurannya sih, nggak ada lah. Cuman saya sendiri.

Ada juga yang lempar pertanyaan “Programmer gak main game?” Lalu disambung sendiri “Aneh aja, bukannya yang bikin game juga programmer?”, sambungnya. Ya iya sih. Yang bikin game emang programmer, tapi pastinya bukan saya. Lha game cuma satu dari sekian banyak hal yang dikerjakan programmer.

Saya Nggak Mau Buang Waktu

Nggak sedikit yang tanya kenapa saya nggak main game. Biasanya saya menjawab sekenanya saja dibawa jadi candaan. Sering orang kemudian berfikir kalau saya sendiri nggak tau jawabannya. Sebetulnya saya tahu persis kenapa saya nggak main game. Cuma nggak enak aja bilangnya. Takutnya nanti orang tersinggung. Saya memang cenderung nggak mikir orang tersinggung dengan ucapan saya. Kalau memang perlu. Tapi kalau nggak perlu-perlu amat ya buat apa kan. Atau mungkin malah mereka nunjuk jidat saya bilang saya sok rajin lah atau apa.

Saya nggak main game karena saya nggak mau buang-buang waktu percuma.

Saya jarang sekali merasa punya kelebihan waktu sih. Tapi kalaupun ada, daripada dipake main game, saya mebih milih pake buat buat baca, setidaknya ada tambahan ilmu. Atau pake buat tidur, setidaknya badan dapet istirahat. Atau pake muter tasbih, berdzikir keq, istigfar keq, apa ajalah. Lumayan nambah-nambah bekel kalau datang waktunya dipanggil.

Itu kalau ada waktu luang dan sama sekali nggak kepikir mau ngapain. Tapi biasanya sih kalau ada waktu senggang, saya pakebuat ngoprek. Entah ngoprek dengan tangan, atau ngoprek dengan pikiran.

Ngerti dong kenapa saya cenderung males bilang kenapa saya nggak suka main game? Orang akan merasa seperti saya nunjuk jidat dia dan bilang kalau dia tukang buang-buang waktu melakukan sesuatu yang sama sekali nggak berguna.

Emang iya nggak berguna kan? Apa coba yang didapat dari waktu yang terbuang buat main game? Nggak ada. Sama sekali nggak ada. Hiburan? Refreshing? Rekreasi? Ngilangin stress? Tell me no shit lah.

Saya percaya kalau orang yang membuang-buang waktunya untuk main game suatu saat akan menyesal pernah menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang demikian berharga itu untuk sesuatu yang sama sekali nggak berguna. Dan saat mereka menyadari itu, tidak ada lagi cara untuk mengulang dan memperbaikinya. Terlambat. Game over. Tinggal menghadap Tuhan dengan pertanggungjawaban. Dipakai apa saja waktu yang Dia berikan selama kita hidup?

Self Note

Ada yang bilang main game itu buat menghilangkan stress. Ajaib itu kalo menurut saya. Kalau saja waktu yang dibuang-buang untuk main game itu dipakai untuk berusaha, berfikir dan bekerja, masalah yang membuat stress itu Insya Allah terpecahkan koq. In fact, kalau kita punya masalah, galau, stress, lalu buang waktu dengan main game, masalahnya tidak terpecahkan dong, otomatis stress-nya makin parah dong, main game-nya makin menggila dong, terus jadi lingkaran setan yang makin membesar.

Contoh. Karena main game melulu, jadi nggak belajar, akhirnya nggak lulus ujian. Malu. Dimarahin. Stress. Pelariannya, makin menjadi-jadi main gamenya. Makin nggak belajar. Muter-muter bolak balik nggak lulus-lulus. Coba berhenti main game dan pake waktu yang biasanya dibuang-buang buat main game itu buat belajar. Suntuk? Stress jadi susah belajar? Belajarpun nggak bisa masuk? Tell me no shit! Itu cuma alesan orang males. Baca itu buku 100 kali bolak balik. Mau suntuk mau hepi nggak urusan. Gas terus. Nggak mungkin kan luput sama sekali nggak ada yang nempel inget.

Arah lingkaran setannya dibalik.

Saya Menghindari Game

Bukannya saya nggak tertarik main game. Kalau suka rasanya nggak sih ya. Bagaimana bisa kita menyukai sesuatu yang tidak pernah kita lakukan?

Sesuatu yang nggak penting, main-main doang, itu hampir selalu sangat menarik. Karena pada dasarnya kan manusia itu males. Males mikir. Males kerja. Maunya ya itu, main-main, buang-buang waktu. Salah satunya dengan main games.

Main game juga cocok banget buat orang yang mageran. Jelas dong, main game bisa dilakukan sambil rebahan di kasur atau di sofa. Ya kecuali buat gamer profesional atau atlet e-sport yang biasanya menggunakan komputer dan layar monitor berspesifikasi khusus yang memaksa mereka untuk duduk di “cockpit”. Asik main tembak-tembakan sambil rebahan di kasur dalam kamar ber-AC kan daripada panas-panasan lari-lari sendiri bermain “paintball”? Bagi banyak orang sepertinya begitu. Kadang-kadang saya tertarik juga.

Tapi saya intentionally melarang diri saya untuk tidak menyentuhnya. “Jangan mulai deh!”, kira-kira begitulah kata malaikat baik dalam kepala saya. Dan memang buat saya sih larangan ” malaikat baik” ini hampir selalu sukses.

Dari yang saya lihat, teman-teman, orang-orang dekat, atau cerita yang saya dengar tentang orang-orang yangbsaya sama sekali gak kenal, game ini punya efek adiktif yang sangat kuat, bikin orang kecanduan. Kalo nggak lagi main pengen buru-buru main, kalo lagi main gak pengen berenti, kalo udah main pengen buru-buru mulai lagi. Ini merata dari anak kecil sampai orang dewasa. Lihat bagaimana anak kecil nangis-nangis nggak mau diajak pulang dari Timezone. Lihat bagaimana anak rewel jadi anteng setelah dikasih handphone emaknya.

Beranjak remaja sama saja. Pernah denger remaja kesiangan bangun sampai bolos sekolah gara-gara begadang main game? Kalopun sukses digeret emaknya bangun lalu pergi sekolah, apa iya duduk terkantuk-kantuk pelajaran bisa masuk? Ujung-ujungnya sekolah bukan buat mencari ilmu, hanya sekedar menyelamatkan absen doang. Tuaan dikir, anak-anak kuliahan juga sama aja. Coba saat banyak demo tanya mahasiswa yang gak ikutaan demo kenapa dia nggak turun. Palingan jawabannya “Ajg, mendingan main PUBG!”

Kecanduan game ini sangat sulit disembuhkan. Mereka yang kecanduan dari kecil, sampai remaja, sampai dewasa tetap kecanduan. Pernah lihat pegawai-pegawai cewek yang “menyembunyikan” Solitaire? Diam-diam main, kalau liat atasan mendekat langsung ganti layar aplikasi WordPress. Perempuan saja yang cenderung lebih tertib begitu apalagi laki-laki.

Game v.s. Narkoba

Kalo kita bicara kecanduan, ada banyak hal buruk dan membuat kecanduan yang seharusnya dihindari. Rokok, alkohol, narkoba misalnya. Bahkan bagi sebagian orang makanpun menjadi seperti candu. Biasanya mereka yang kecanduan game akan mengkategorikan kecanduan game sebagai “kecanduan yang thoyib” dibandingkan misalnya saja narkoba yang digolongkan sebagai “kecanduan yang haram”. Salah satu alasannya katanya kalau narkoba membobol kantong dan merusak badan.

Kenyatannya sama saja. Sekarang banyak game yang supaya bisa terus main, atau untuk mencapai level tertentu dengan cepat orang harus bayar. Lalu muncul kisah-kisah orang tua yang kebobolan kartu kredit karena handphone-nya dipakai anaknya untuk main game dan terus belanja token. Miris? Sering kali sih yang begini-begini terjadi karena orang tuanya juga diam-diam pemain.

Seperti rokok, alkohol, atau narkoba, game kalau mau seru juga beli, nggak gratisan. Di handphone kita beli token. Mau pakai console seperti PlayStation dkk. selain alatnya yang mahal, gamenya juga gak gratis. Lha nyolong aja nyari bajakan kan beli, meskipun murah.

Belum lagi kerugian finansial yang juga bisa terjadi akibat produktivitas yang menurun akibat banyak waktu terbuang untuk main game. Maniak game bisa menghabiskan berjam-jam waktu buat main game. Katakanlah dia main 2 jam sehari. Anggap saja rata tiap hari meskipun kenyataannya weekend biasanya lebih banyak lagi. Artinya seminggu udah 14 jam. Standar manusia kerja menurut Undang Undang berapa jam? 42? Berarti sepertiganya. Kalau dengan jam kerja normal kita menghasilkan 10 juta per bulan misalnya, bagaimana kalau sepertiga yang dibuang itu dipakai bekerja saja. Artinya penghasilan bertambah 3.5 juta lagi, per bulan.

Kantor memang cuma 8 jam per hari nggak bisa dilebih-lebihkan lagi? Kan bisa melakukan hal lain. Guru honorer di desa terpencil aja ngerti nyari tambahan dengan ngojek masa yang hidup di kota besar nggak kepikir ngapain keq? Pernah dengar polisi yang pulang tugas berjualan di pinggir jalan? Belajar dari dia dong. Bisa koq dia juga memilih bermalas-malasan, pulang tugas ngaso sambil main game.

Siapa bilang main game nggak mengganggu kesehatan? Mungkin main game tidak secara langsung merusak organ-organ tubuh seperti rokok merusak paru-paru, alkohol merusak hati, atau narkoba merusak otak. Tapi mageran main game sambil rebahan membuat aktivitas fisik yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan jadi jauh berkurang.

Bayangkan kalau waktu 2 jam per hari yang dibuang percuma dengan bermain game itu dipakai untuk berolah raga di gym. Kalau sekedar kebugaran dan bentuk tubuh sekelas Ade Rai mah kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.