Categories
Filosofi

Saya Bukan Penyayang Hewan

Saya nggak makan daging. Sudah lama, 7-8 tahun mungkin. Dan itu sering membuat orang bertanya, apakah saya seorang penyayang hewan.

Seberapa sering? Ya cukup untuk membuat saya bosen dengernya, dan karena bosen itu sering kali saya menjawab sekenanya. Mungkin benernya sih nggak sering-sering amat juga. Persoalannya saya termasuk orang yang interaksi sosialnya sangat sedikit. Ada banyak hari di dalam hidup saya dimana saya sama sekali tidak berinteraksi dengan orang selain orang di rumah. Jadi kalo dalam seminggu ada satu-dua orang yang nanyain itu, buat saya itu udah sering banget.

Saya peduli, kasian, dengan hewan. Saya memelihara hewan. Dan hewan-hewan peliharaan saya itu saya perlakukan hampir seperti manusia, seperti teman, seperti anak. Nggak punya kandang. Mau tidur di meja, di sofa, di kasur, bebas. Biasanya cuma kalo ada yang tidur di keyboard laptop baru saya pindahin. Itupun kalo laptopnya mau saya pake. Malah kalo ada yang keliatan tidur di teras, di balkon, atau di lantai, justru saya bangunin suruh pindah. Jadi teman kerja, teman ngobrol, teman makan. Kalo kebetulan lagi makan di warung ada hewan jalanan nyamperin saya kasih dia makan. Beli khusus buat dia biasanya, karena makan saya juga banyak, gak mungkin seporsi dibagi.

Tapi apakah itu membuat saya merasa layak disebut penyayang hewan? Rasa-rasanya tidak. Tidak cukup pantas.

Kenapa?

Meskipun saya nggak makan daging, saya makan ikan dan teman-temannya, baik tawar maupun seafood. Kalo kita liat bagaimana sapi, kambing, babi, ayam, dibunuh untuk dimakan, bisa dong bayangin rasa sakitnya. Kebanyakan orang mungkin melihatnya biasa-biasa saja. Sebagian kecil sedikit berempati, kasian. Sebagian sangat kecil berempati sangat dalam sehingga mereka memilih untuk tidak makan hewan.

Apakah karena saya tidak makan daging kemudian saya termasuk ke dalam bagian yang sangat kecil itu?

Tidak semudah itu Ferguso!

Saya makan ikan. Tau dong bagaimana ikan mati sebelum dimakan? Rasa sakit yang mereka tanggung sebelum meregang nyawa sangat nyata di depan mata jauh lebih berat dan lama dibanding ayam disembelih.

Sementara itu bukankah rasis namanya kalo kita mengasihi sebagian, mengasihani sebagian, tapi memakan sebagian yang lain?

Ingat bagaimana dulu orang kulit putih saling menjaga diantara mereka tapi mengusir yang berkulit merah, memusuhi yang berkulit kuning, dan memperbudak bahkan menyiksa mereka yang berkulit hitam. Di Afrika Selatan kita mengenal apa yang disebut “apartheid” yang akhirnya tumbang oleh perjuangan Nelson Mandela. Di Amerika Serikat perbudakan terhadap kulit hitam baru mereda lewat perjuangan Martin Luther King.

Rasisme, membeda-bedakan sesuatu yang secara hakiki sama, itu merupakan salah satu kejahatan terburuk terhadap kemanusiaan.

Lalu kalau kita, saya melakukannya terhadap hewan, bagaimana mungkin bisa disebut penyayang hewan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *