Categories
Opini

Propinsi Minangkabau?

Ucapan petinggi PDI Perjuangan, Puan Maharani, yang juga puteri Ketua Umum partai berlambang banteng banyak dimanfaatkan fihak-fihak yang setidaknya dari sisi haluan politik terafiliasi dengan partai-partai yang berseberangan untuk mengobarkan amarah masyarakat Sumatera Barat terhadap PDI Perjuangan. Motivasinyapun sangat mudah dibaca. Secara kedaerahan, mengumpulkan suara masyarakat Sumatera Barat untuk Calon Kepala Daerah yang mereka usung. Secara nasional mendelegitimasi PDI Perjuangan sebagai “partai penguasa” termasuk para pejabat tinggi yang berasal dari PDI Perjuangan, terutama Presiden Jokowi.

Usulan Fadli Zon, Anggota DPR dari Partai Gerindra yang konon juga merupakan Ketua Ikatan Keluarga Minangkabau, untuk mengganti nama Propinsi Sumatera Barat menjadi Propinsi Minangkabau, saya yakin juga terkait erat dengan upaya menggoreng pernyataan Puan Maharani itu.

Meskipun dalam berita, seperti yang dilansir portal berita nasional detik.com, Fadli sendiri membantahnya, usulan penggantian nama propinsi dengan nama suku yang menjadi mayoritas penduduk jelas sangat kental dengan nuansa SARA. Perlu dicatat sekali lagi bahwa yang kita kenal sampai saat ini, Sumatera Barat merupakan NAMA PROPINSI, sentara Minangkabau adalah NAMA SUKU yang menjadi mayoritas penduduk Propinsi Sumatera Barat. Dalam tatanan kenegaraan yang kita anut, propinsi itu soal kewilayahan, sama sekali tidak ada hubungan langsung dengan soal kesukuan.

Jadi kalaupun hampir 90% penduduk Propinsi Sumatera Barat beretnis Minangkabau, tidak serta merta berarti nama wilayah yang mereka tempati harus menggunakan nama yang sama dengan nama suku mereka.

Tempat yang mayoritas “penghuni”-nya pohon itu disebut hutan. Apa kita harus mengganti kata ” hutan” menjadi “pohon”?

“Nama Aceh, Papua, atau Bali, juga sejak lama telah digunakan sebagai nama provinsi”, sebut Fadli saat membangun argumen untuk mendukung usulannya seperti dikutip dalam pemberitaan yang diterbitkan sejumlah media.

Argumen yang menurut saya dangkal dan mengada-ada.

Papua itu bukan nama suku. Papua itu nama pulau. Separuh di bagian timur pulau itu merupakan wilayah satu negara, Papua New Guinea, sementara separuh di bagian barat disebut sebagai Papua Barat oleh penjajah Belanda saat mereka masih menguasainya sebagai wilayah jajahan.

Ada yang namanya suku Papua? Tidak ada. Penghuni wilayah Propinsi Papua, yang oleh penjajah Belanda dinamakan Papua Barat itu, yang oleh Presiden Soeharto dinamakan Irian Jaya itu, terdiri dari banyak suku. Satu dua diantaranya sering kita dengar. Sebut saja Suku Asmat atau Suku Dani. Tapi itu hanya sebagian kecil saja. Wikipedia mencatat 47 suku. Beberapa sumber bahkan ada yang menyebut ratusan. Tidak satupun ada disebut yang namanya Suku Papua.

Jelas nama Propinsi Papua bukan merupakan nama suku yang menjadi penduduk mayoritas di kawasan itu.

Nama Propinsi Bali juga tidak serta-merta bisa dikatakan berasal dari nama suku yang menjadi mayoritas penduduknya, meskipun memang kenyataanya Suku Bali merupakan penduduk mayoritas Pulai Bali.

Bali merupakan nama pulau. Sehingga secara kewilayahan, nama Propinsi Bali berasal dari nama pulau yang menjadi wilayah yang dikelolanya. Semangatnya sama dengan nama propinsi yang menggunakan nama pulau tempat wilayah administrasinya berada. Sama saja dengan Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, atau Papua Barat misalnya. Hanya karena Bali pulaunya kecil, hanya satu propinsi, maka namanya tidak diembel-embeli lokasi kawasannya seperti Bali Barat atau Bali Timur.

Kalau kita konyol-konyolan mengganti nama propinsi dengan nama suku yang menjadi mayoritas penduduknya, mestinya Propinsi Sumatera Utara diganti jadi Propinsi Batak, Propinsi Jawa Barat diganti jadi Propinsi Sunda, Propinsi Kalimantan Barat menjadi Propinsi Dayak, bahkan DKI Jakarta harusnya diganti menjadi Propinsi Betawi. Contohnya bisa terus bertambah panjang, daripada bosen rebahan gara-gara PSBB bisa aja tuh ketik terusin.

Aceh? Kita memang mengenal Suku Aceh yang oleh mereka sendiri disebut “Uerueng Aceh”. Tapi berapa banyak sih propinsi di tanah air ini yang nama propinsinya merupakan nama suku yang menjadi mayoritas penghuninya? Selain itu sumber Wikipedia juga menyebutkan bahwa yang namanya Suku Aceh itu sebetulnya merupakan keturunan dari berbagai ras, kaum, bangsa yang menetap di wilayah itu.

Tapi saya sangat yakin kalau masyarakat Suku Minangkabau, baik yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Barat ataupun merantau ke wilayah-wilayah lainnya, merupakan orang-orang yang bijak dan cerdas sehingga tidak mudah diprovokasi dengan argumen-argumen murahan seperti itu.

One reply on “Propinsi Minangkabau?”

Kalau suku Bali mungkin diperoleh karena nama pulaunya adalah Bali. Saya sendiri belum pernah menemukan artikel yang menjelaskan nama suku Bali yang melekat pada orang-orang asli Bali.

Nama Bali diberikan kepada pulau ini dengan beberapa alasannya, lalu untuk memudahkan menyebut orang-orang yang berada di pulau tersebut dan melaksanakan budaya dan tradisi yang berkembang di pulau Bali, disebut orang Bali, yang kemudian dijadikan suku.

Begitu yang saya tahu, tapi entah mungkin saya salah.

Terkait pemberian nama provinsi berdasarkan suku mayoritas memang berpontensi menimbulkan sentimen berbau SARA. Menurut saya tidak perlu dilakukan, kecuali memang sudah terdapat konsensus warga setempat (termasuk suku atau etnis minoritas yang menetap di sana) dan disetujui oleh pemerintah pusat, mau tidak mau harus diterima oleh semua orang.

Semoga pemerintah pusat dan daerah lebih bijaksana lagi, terutama dalam menyampaikan pernyataan yang tidak menyinggung atau merugikan kepentingan daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *