Categories
Filosofi

Pelajaran Totalitas Quartararo

Rasa-rasanya sejak putaran kedua di Mandalika yang digelar pada bulan Maret lalu, saya belum pernah lagi mengomentari MotoGP. Nggak berarti saya nggak memperhatikan apalagi nggak nonton sih. Cuma tidak merasa ada sesuatu yang cukup menarik untuk dikomentari saja. Tapi yang jelas dari seri-ke-seri ya saya tetap nonton.

Pada seri MotoGP ke-13 di Austria ada fakta yang mengusik fikiran saya. Sebuah totalitas luar biasa dari pembalap Yamaha, Fabio Quartararo, yang sengaja menurunkan berat badannya sendiri untuk mendapat kecepatan yang lebih tinggi saat memacu motornya di lintasan balap.

Sebetulnya itu mungkin tidak secara langsung terkait dengan balapan, dengan motor, dengan mesin, dengan aerodinamika, dengan ban, dengan sirkuit, dan entah tetek-bengek adu cepat sepeda motor. Bahwa munculnya disitu, sepertinya sih sekedar kebetulan saja.

Pemerhati MotoGP pasti tahu kalau tahun ini Ducati benar-benar mendominasi kompetisi. Dari seri-ke-seri pembalap-pembalap penunggang Ducati selalu bercokol di papan atas, baik pada saat balapan dimulai maupun saat balapan berakhir.

Pada saat balapan dimulai, penghuni baris-baris start paling depan yang ditentukan oleh hasil kualifikasi selalu didominasi pembalap-pembalap Ducati. Begitu pula saat balapan berakhir, tidak hanya podium, top-5 atau bahkan top-10 selalu didominasi mereka.

Motor-motor Jepang terutama Honda dan Yamaha yang biasanya sangat digdaya dan bergilir menjadi raja MotoGP malah berbalik menjadi langganan gigit jari.

Honda tanpa Marc Marquez sepertinya menjadi motor Jepang paling teraniaya. Tapi sebetulnya sih kalau saja tidak ada Fabio Quartararo, Yamaha mungkin malah lebih hina-dina dari Honda.

Hasil-hasil yang diperoleh pembalap-pembalap Honda terutama Pol Espargaro, Takaaki Nakagami, dan Alex Marquez hampir selalu lebih baik dari pembalap-pembalap Yamaha selain Quartararo. Padahal mereka bukan pembalap kaleng-kaleng. Daryn Binder anggaplah anak bawang, tapi Franco Morbidelli dan Andrea Dovizioso itu pembalap berpengalaman yang memiliki track record cukup mengkilap.

Hanya duo Suzuki yang masih cukup sanggup unjuk gigi meskipun giginya tidak sebanding dengan Ducati. Bersama para pembalap Aprilia, duo Suzuki Joan Mir dan Alex Rins biasanya masih bisa finish di 10 besar.

Fabio Quartararo memang seperti anomali. Di tengah keterpurukan motor-motor Jepang termasuk sesama pembalap Yamaha, Quartararo tetap bisa bersaing di papan atas yang didominasi pembalap-pembalap Ducati. Bahkan sampai saat ini masih bisa mempertahankan posisinya di puncak klasemen sementara.

Tapi kita juga tahu kalau semakin kesini Quartararo semakin terseok-seok, terutama berhadapan dengan pembalap-pembalap bermotor Ducati. Pesaing utamanya dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP tahun lalu yang membela tim utama Ducati, Francesco Bagnaia, memenangi 3 seri terakhir secara berturut-turut. Sementara Quartararo minggu lalu di Austria hanya sanggup finish di posisi kedua, persis di belakang Bagnaia. Dua minggu sebelumnya di Inggris Quartararo menorehkan hasil lebih buruk lagi, finish di posisi ke-8. Sebelum itu, di Belanda Quartararo malah gagal finish.

Alhasil posisi Bagnaia di kelasemen sementara terus merangsek naik semakin mendekati Quartararo yang pastinya posisinya di puncak kelasemen semakin rawan.

Yamaha Memang Lemot

Baik Quartararo maupun Yamaha jelas sangat sadar situasi yang mereka hadapi. Masalah utama yang membuat Quartararo dan Yamaha terseok-seok jelas terletak pada motornya.

Kita bisa dengan mudah melihat betapa motor-motor Ducati mendominasi balapan. Bukan hanya Bagnaia dan Jack Miller yang turun sebagai pembalap tim utama, pembalap-pembalap tim satelit seperti Johan Zarco dan Jorge Martin di tim Pramac juga sangat kompetitif. Bahkan Enea Bastianini dan Fabio di Gianantonio dari Gresini Racing yang menggunakan motor Ducati dengan spesifikasi tahun lalu saja bisa sangat kompetitif. Begitu juga pasangan pembalap-pembalap muda Luca Marini dan Marco Bezzecchi dari tim VR46 binaan pembalap legendaris Valentino Rossi.

Dibandingkan dengan pembalap-pembalap Ducati, prestasi yang ditorehkan pembalap-pembalap Yamaha memang hancur lebur. Selain Quartararo, tiga pembalap Yamaha lain konsisten berada di papan bawah, termasuk pembalap-pembalap berpengalaman, Morbidelli dan Dovizioso.

Dibandingkan Ducati, motor-motor Yamaha kalah di dua sektor yang sangat esensial, tenaga dan kecepatan puncak alias top speed. Yamaha bukannya tidak punya kelebihan dibandingkan Ducati. Baik pembalap maupun analis mengkonfirmasi bahwa motor-motor Yamaha jauh lebih seimbang dan mudah dikendalikan sehingga bisa masuk dan keluar tikungan lebih cepat.

Tapi kelebihan Yamaha itu sepertinya memang tidak cukup untuk membuatnya sejajar dengan Ducati.

Yamaha berusaha keras memperbaiki keadaan dengan berusaha meningkatkan kinerja motor-motornya. Terakhir bahkan dikabarkan Yamaha sengaja mendatangkan insinyur kenamaan dari ajang Formula 1 untuk membantu pengembangan motornya. Tapi baik bos-bos Yamaha maupun Quartararo sangat sadar kalau mereka tidak bisa mengharapkan hasil yang signifikan dalam waktu cepat.

Tahun ini mereka hanya bisa melakukan perubahan kecil-hecil pada motor yang ada. Mungkin bisa mengail sedikit perbaikan. Tapi kalaupun bisa, tidak akan signifikan juga.

Totalitas Quartararo

Lalu apa yang dilakukan Quartararo untuk meningkatkan kecepatannya di lintasan saat bertarung dengan gerombolan pembalap-pembalap Ducati … plus Aprilia?

Sejak gagal finish di Belanda dan terpuruk di posisi ke-8 di Inggris, Quartararo menurunkan berat badannya sampai 2 kilo menjelang seri kemarin di Austria. Entah itu benar-benar totalitas atau bentuk keputusasaan karena dia sangat tahu kalau secara teknis dia tidak bisa berharap banyak. Tapi yang jelas memang di Austria minggu lalu Quartararo lebih oke dibandingkan di dua seri sebelumnya. Finish di posisi kedua dengan start dari posisi ke-5.

“Kalo gitu kenapa cuman 2 kilo, kalo turunnya 10 kilo kali bisa lebih kenceng lagi?”, celetuk seorang teman seusai sama-sama nonton balapan minggu lalu.

Ya kali kita banyak lemaknya, turun 10 kilo nggak apa-apa. Pembalap-pembalap MotoGP itu six-pack semua. Badan mereka otot semua. Nggak mungkin menurunkan berat badan secara signifikan tanpa mengganggu masa otot. Sementara tentunya kalau sampai mengganggu masa otot, performa tubuhnya secara keseluruhan bisa ikut terganggu. Jadi turun 2 kilo itu udah luar biasa. Apalagi cuma dalam waktu 1 – 2 minggu saja.

Moral Story

Pelajaran yang saya ambil dari cerita itu adalah totalitas. Kita harus maksimal mengupayakan apapun yang mungkin bisa dilakukan untuk mencapai tujuan.

Kalau bicara efek, menurunkan 2 kilo berat badan itu berapa banyak sih pengaruhnya terhadap kecepatan. Entah ada atau tidak, tapi kalaupun ada pastinya sangat sedikit. Tapi itupun dijabanin Quartararo. Mungkin itu juga salah satu penyebab dia bisa lebih kompetitif dibandingkan pembalap-pembalap Yamaha lain yang terpuruk di dasar kelasemen meskipun semua menggunakan motor yang sama.

Totalitas memaksimalkan upaya, bahkan dari faktor yang demikian sulit padahal efeknya sangat kecil, membuat perbedaan besar.

Nggak terlalu mengagetkan kalau Quartararo bisa menutup MotoGP 2022 sebagai juara meskipun motornya lebih lemot dari 8 pembalap Ducati dan 2 pembalap Aprilia.

Untuk tahun ini Suzuki, KTM, dan Honda sepertinya tidak perlu diperhitungkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.