Categories
Opini

Hancur Sudah Keindahan Alami Mandalika

Saya jadi penggemar MotoGP sudah sejak jaman sebelum era Valentino Rossi. Selama memungkinkan, saya selalu menyempatkan nonton. Kebanyakan sih memang lewat streaming. Tapi kalau kebetulan situasi dan kondisi memungkinkan untuk nonton langsung, jelas itu kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Tapi kehadiran sirkuit dengan kualifikasi memadai untuk penyelenggaraan MotoGP di tanah air sama sekali tidak membuat saya antusias. Bahkan ketika diberitakan bahwa sirkuit baru itu sudah dikonfirmasi masuk ke dalam kalender balap dua ajang adu cepat sepeda motor paling bergengsi di muka bumi, WSBK dan MotoGP.

Hamparan pasir putih dan lautan membiru di Mandalika itu sungguh memanjakan mata. Sayang latar depan aspal sirkuit itu justru merusak pemandangan.

Kalau ditanya apakah saya mau menonton langsung gelaran MotoGP Mandalika?

Kalau memungkinkan jelas mau.

Tapi kalau buat saya keberadaan sirkuit yang demikian prestisius di lokasinya yang sekarang itu jelas menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi jejeran pejabat penting baik yang berskala lokal di NTB maupun di tingkat pusat beramai-ramai menepuk dada seolah-olah sudah menyelesaikan tugas besar dan penting dengan gemilang.

Saya bukannya nggak suka negeri ini punya sirkuit berkelas dunia dan ada kalender kejuaraan-kejuaraan berskala internasional digelar di tanah air. Kalau memungkinkan bahkan ya jangan cuma WSBK dan MotoGP, Formula 1 juga.

Bangga pastinya.

Meskipun mungkin lebih membanggakan kalau ada pembalap-pembalap Indonesia yang turut bersaing di papan atas kejuaraan itu daripada punya sirkuit doang. Apalagi nyatanya keberadaan fasilitas memadai tidak menjamin tumbuhnya prestasi.

Contoh saja. Sudah sejak kapan kita punya stadion-stadion sepak bola yang cukup representatif bahkan boleh dibilan bertaraf internasional. Lalu apa kemudian tim nasional sepak bola Indonesia jadi punya taring?

Yang saya sayangkan itu pemilihan lokasinya. Emang nggak ada tempat lain gitu ya?

Ahli Merusak Alam

Petinggi-petinggi negeri +62 ini memang aneh. Kita tahu bahwa wisatawan asing itu menyukai keindahan yang alami. Nggak tahu deh kalau wisatawan domestik. Tapi mereka justru sibuk merusak keindahan alami dengan pembangunan infrastruktur fisik yang tidak hanya sekedar tidak alami tapi justru merusak keindahan alami itu.

Sepertinya mereka menganggap kemegahan itu lebih menarik daripada keindahan alami.

Ndeso pol!

Ingat dong kasus pembangunan fisik fasilitas megah atas nama fasilitas pariwisata di Pulau Komodo yang kemidian berujung peringatan Unesco yang meminta Pemerintah Indonesia menghentikan pembangunan fisik fasilitas pariwisata di Taman Nasional Komodo karena dianggap mengancam keberlangsungan konservasi di salah satu situs warisan dunia itu.

Kawasan Mandalika memang sudah sejak lama diplot untuk pembangunan fasilitas pariwisata. Dulu sempat lama mangkrak sehingga hanya satu hotel saja yang berdiri sendirian di kawasan yang terasa sangat terpencil itu.

Tapi sekarang dengan dicanangkannya Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata menyusul masuknya Mandalika ke dalam 10 New Bali dan Destinasi Wisata Super Prioriras, sejumlah proyek pembangunan fasilitas pariwisata langsung gaspol.

Selain infrasturktur yang digarap pemerintah seperti pembangunan jalan dan sebagainya, saat ini ada sejumlah hotel bertaraf internasional sedang dibangun.

Salah satu infrastruktur yang mestinya tidak ada hubungannya dengan pariwisata dan hampir selesai dibangun di Mandalika adalah sirkuit internasional yang sekarang sudah resmi menyandang nama Pertamina Mandalika International Street Circuit.

Sesuai namanya, street circuit, konon konsep sirkuit ini bongkar pasang. Dijadikan sirkuit saat ada gelaran kejuaraan, menjadi jalanan umum saat tidak ada kejuaraan.

Tapi berbeda dengan Sirkuit Formula 1 di Singapura atau Monako dimana sirkuit digelar di atas jalan raya yang ditutup dan dipersiapkan khusus menjelang kejuaraan, Mandalika sebaliknya, karena sirkuitnya memang sengaja dibangun sejak awal dengan rancangan sebuah sirkuit.

Jadi kalau di Singapura atau Monaco jalan raya disulap sementara menjadi sirkuit saat ada kejuaraan, di Mandalika sirkuit dibuka menjadi jalan umum saat tidak ada kejuaraan.

Karena letaknya di tepi pantai, sirkuit Mandalika menawarkan panorama sangat indah. Mandalika sendiri memang sangat indah. Mungkin seindah kecantikan Putri Mandalika yang kecantikannya yang luar biasa justru meaksanya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Keindahan sirkuit Mandalika semakin kentara jika dilihat dari ketinggian.

Tapi kalau buat saya apalah arti panorama indah untuk sebuah sirkuit? Para pembalam saat berada di atas lintasan tidak akan memperhatikan keindahan panorama di sekitarnya. Bahkan mata para penontonpun akan lebih tertuju pada laju motor yang dipacu para pembalap di atas lintasan daripada keindahan alam di sekitarnya.

Setelah balapan usai, kalau mereka mau bersantai menikmati keindahan alam, mereka akan menikmatinya dari hotel, villa, restoran, cafe, beach club, atau bahkan mungkin dari atas pasir pantainya langsung, bukan dari sirkuit.

Lalu buat apa sirkuit itu ditaro disitu?

Kalaupun sirkuit itu mau ditandemkan dengan kawasan wisata Mandalika, kan nggak harus disitu ditaronya. Bisa dibangun agak mundur dong?

Biarlah kawasan di tepi pantai itu menjadi ruang terbuka alami.

Heran koq seneng banget menggusur keindahan alam dengan beton dan aspal lalu mereka dengan bangga menepuk dada seolah baru menyelesaikan sebuah maha karya.

Katanya demi pariwisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *