Categories
Filosofi

Cermin Karakter Pada Tumpukan Baju

Seorang teman melalui postingan Facebook melempar topik pembicaraan mengenai masa lalu, masa remaja, masa kecil. Melalui postingan itu memprtanyakan apakah teman-temannya dulu kalau mengambil baju dari tumpukannya di lemari diangkat atau ditarik.

Ketangkep maksudnya nggak sih? Untuk memastikan saja bahwa kita benar-benar on the same page, biar saya samakan persepainya ya.

Katakanlah kita abis mandi nih, mau jalan, milih baju buat dipake. Ini cerita bajunya nggak digantung lho ya. Bukan lemari baju artis ini, ato lemari remaja anak Menteng, kita ngomongin lemari baju remaja kampung biasa. Lalu baju yang terpilih untuk dipakai, itu adanya di tengah tumpukan. Kamu akan langsung menari baju itu keluar begitu saja, atau mengangkat dulu bagian tumpukan baju di atasnya, baru mengambil baju yang mau kita pake?

Kebayang konsekuensinya kan? Kalau ditarik, tumpukan baju yang ditinggal bakal berantakan. Kalau diangkat, sebaliknya, tunpukan baju yang ditinggal akan tetap rapi. Tapi sisi lainnya, kalau ditarik, gampang dan cepat, praktis. Sementara kalau diangkat kan perlu usaha lebih. Buang waktu buang tenaga. Meskipun sebetulnya sangat tidak seberapa, percayalah untuk remaja cowok, perbedaan itu sangatlah berarti. Demikian berarti sampai rela didamprat Emak gara-gara lemari berantakan terus.

Sebetulnya ada efek negatif lain sih, baju yang tumpukannya berantakan menyebabkan baju jadi kusut kalau nanti mau dipakai. Tapi lagi-lagi, buat remaja cowok itu bukan sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Bahkan sebagian merasa lebih keren pake baju kusut daripada baju yang klimis terseterika rapi.

Saya sendiri tidak memilih salah satu diantara kedua cara itu. Tidak ditarik, tidak juga diangkat. Saya kalau mau pake baju, ambil yang paling atas dari tumpukan. Jadi saya nggak milih-milih baju. Baju manapun yang berada paling atas di tumpukan, itu yang saya ambil dan pake.

Kalau nggak milih jadi nggak kaya dong?

Nggak juga. Setidaknya saya tidak menganggap itu penting.

Hampir semua celana saya blue jeans. Beda-beda dikit, ada yang birunya lebih mulus, ada yang sudah agak belel, ada yang belelnya lebih banyak, ada yang sengaja dibikin belel, ada yang robek-robek sedikit, tapi semua jeans berwarna biru. Biru khas bahan jeans. Jadi ambil celana manapun dapetnya jeans dan warnanya biru. Atasannya? Karena semua celana saya blue jeans, semua baju saya juga kurang lebih cocok dengan blue jeans. Celana manapun yang saya ambil, baju manapun yang saya ambil, hasil akhirnya nyambung-nyambung aja.

Lalu kenapa saya memilih cara itu? Ambil yang paling atas daripada menarik atau mengangkat?

Karena saya menghindari sisi negatif baik dari cara menarik ataupun mengangkat. Saya nggak perlu ribet-ribet pake acara mengangkat, tapi tumpukan baju tetap rapi.

Tujuan penting lainnya, saya nggak pengeb Ibu saya ngomel-ngomel cuma gara-gara tumpukan baju dalam lemari yang acak-acakan lagi acak-acakan lagi. Sambil menyelam minum air dong? Apakah artinya Ibu jadi nggak ngomel-ngomel soal baju? Nggak juga ternyata. Hehehe. Ngomel … mungkin that’s what Moms for.

Ternyata tumpukan baju saya lumayan banyak. Sementara baju yang saya pake besoknya langsung dicuci Si Bibi dan dikembalikan ke dalam lemari. Pastinya Si Bibi pas naro baju bersih setelah dicuci dan disetrikan kan ditaro paling atas. Alhasil, menurut pengamatan Ibu saya, baju yang saya pake itu itu terus, cuma satu dua yang memang langganan berada di posisi paling atas.

Jadi sebagai Ibu yang tidak ingin anaknya kelihatan lebih gembel dari yang seharusnya, cuma punya baju dua biji yang dipake bergantian terus menerus, Ibu jadi punya kerjaan tambahan. Every now and then dia menukar-nukar baju dalam tumpukan. Yang di bawah dipindahkan ke atas, biar nanti pas saya mau pake baju, nggak ambil lagi yang baru sehari dua hari lalu saya pake. Tentu saat mengambil baju dari bagian bawah tumpukan, Ibu saya nggak pake cara ditarik yang praktis dan cepat tapi mengundang prahara.

Pekerjaan yang menurut saya sangat tidak penting, tidak perlu dilakukan, dan kalau tetep mau dilakukan pun cetek banget. Sementara di sisi lain Ibu saya selalu ngomel dan mengeluh seolah-olah itu pekerjaan yang sangat penting dan sangat berat tapi terpaksa harus dilakukannya karena dengan sangat sembrono saya abaikan.

Andai saja Ibu saya tahu kalau saya lebih memilih berkorban gaya, keliatan gembel cuma punya baju yang itu-itu saja kayak Bob Sadino, hanya demi menjaga supaya tidak membuatnya jengkel gara-gara lemari yang berantakan, mungkin beliau akan memeluk saya untuk pengorbanan saya yang demikian epik itu.

Tapi itu dulu. Sekarang kalau saya mengingat itu, saya jadi melihat bahwa karakter saya sekarang ternyata sudah tergambar dari keseharian saat saya masih remaja. Beberapa helai benang merah karakter yang tergambar dari tumpukan baju diantaranya:

Pragmatis – saya mencari penyelesaian paling praktis dari apa yang saya hadapi. Saya dihadapkan pada pilihan antara yang menarik baju yang cepat tapi berantakan atau mengangkat baju yang ribet tapi rapi, saya menemukan cara yang cepat dan tidak berantakan.

Taktis – jangan perang kalau nggak mungkin menang. Saya ingin praktis, tapi saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan dengan Ibu saya yang pasti ngomel kalau melihat lemari saya berantakan terus. Perdebatan dengan emak-emak nggak mungkin bisa saya menangkan. Jadi, cari cara lain.

Nggak banyak gaya – untuk menjinakkan situasi yang konsekuensinya ribet atau ribut, ribut dengan Ibu saya gara-gara lemari berantakan, saya memilih untuk mengorbankan gaya, pake baju yang itu lagi itu lagi.

Sayang Ibu – saya tidak memilih opsi yang mungkin akan membuat ibu saya jengkel. Biarlah urusan gaya yang mengalah. Meskipun ternyata Ibu saya tetap ngomel dengan sisi yang berbeda, tapi tujuan saya sih biar gak mancing omelan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.