Categories
Hobi

Sudut Pandang

Pagi ini satu posting berita di media digital yang biasa saya baca sebagai bagian dari ritual pagi membuat pikiran saya sedikit melayang, way out of topic, mungkin malah sama sekali nggak ada hubungannya dengan konteks beritanya. Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana si jurnalis menulis berita, dengan judul yang kata-katanya lumayan bombastis, dengan melihat dari satu sudut pandang saja. Pastinya sudut pandang dia sendiri lah ya.

Menulis judul bombastis yang berlebihan memang lebay, tapi sekarang rasanya jadi terdengar biasa. Kita semua sudah sangat mahfum kalau media sekarang makan dari click dan untuk memancing click sebanyak-banyaknya mereka biasa menggunakan teknik yang biasa disebut “click bait”, umpan click. Salah satu metode dari aplikasi teknik ini adalah judul yang bombastis.

Saya kira kaidah jurnaisme yang baik mestinya nggak begitu. Harus obyektif, tidak melebih-lebihkan. Tapi begitulah kenyataannya. Bahkan media papan ataspun begitu. Toh gak bisa juga terlalu nyalahin jurnalis yang nulis. Kan sebelum terbit pasti ada editor yang nge-approve dulu. Artinya “filter”-nya juga 11-12.

Secara kebetulan, bertianya mengenai MotoGP. Tepatnya mengenai seri yang digelar di Sirkuit Maranello, Italia, beberapa hari lalu. Ini dia beritanya. Judulnya “Saat Yamaha YZM-R1 Quartararo Dipecundangi Desmosedici Bagnaia di Trek Lurus”.

Framing

Sebagai penikmat MotoGP yang menonton dari awal sampai akhir, saya jelas melihat kejadiannya. Saat itu Quartararo yang start dari posisi ke-6 sukses mendapatkan start bagus yang melesatkannya ke posisi ke-2. Alih-alih mengejar Bexecci di depannya, Quartararo justru sibuk dengan gempuan Marini di belakangnya, sementara buntut Marini ditempel Bagnaia.

Di sebuah track lurus, Bagnaia menyalip kedua pembalap di depannya, Quartararo dan Marini, sekaligus.

Ini hal kedua dan ketiga yang jadi perhatian saya. Si jurnalis mem-framing pada subset yang sangat kecil.

Kejadian beberapa detik saat Bagnaia menyalip Quartararo. Benar bahwa Ducati yang ditunggangi Bagnaia berhasil menyalip Yamaha yang dikemudikan Quartararo di sebuah trek lurus. Framing yang memasang kaca mata kuda pada pembaca, dari kenyataan bahwa kalau dilihat lebih lebar, sepanjang balapan, ceritanya berbeda.

Perlu dicatat. Saat start, Quartararo berada di posisi ke-6. Lima motor di depannya Ducati semua. Di Giannantonio (Gresini – Ducati GP21), Bezzecchi (Mooney VR46 – Ducati GP21), Marini (Mooney VR46 – Ducati GP22), Zarco (Pramac – Ducati GP22), dan Bagnaia (Lenovo – Ducati GP22).

Mengawali frame di trek lurus yang disorot berita itu, Quartararo berada di posisi ke-2 dan Bagnaia berada di posisi ke-4. Artinya sebelum Bagnaia dengan Ducati-nya menyalip Yamaha-nya Quartararo di trek lurus itu, Quartararo sudah lebih dahulu menyalip Bagnaia plus tiga Ducati lain.

Jadi di frame lain, kalau mau memilih kata yang sama bombastisnya, kita bisa membuat berita berjudul “Yamaha YZM-R1 Quartararo mempecundangi Ducati GP22 Bagnaia dan tiga Ducati lainnya selepas start”.

adiarifin.id

Penghilagan Fakta

Hal lain, kalau kita ikuti saja kaca mata kuda yang dipasang si jurnalis, hanya pada sekian detik di trek lurus dimana Bagnaia menyalip Quartararo, si jurnalis menghilangkan fakta sehingga membuat beritanya jadi lebih bombastis. Kesannya Ducati yang merupakan motor Bagnaia terkesan jauh lebih digdaya sementara Yamaha yang merupakan motor Quartararo terkesan jauh lebih lemah.

Disitu terselip fakta bahwa yang disalip Bagnaia dengan Ducati-nya bukan hanya Quartararo dengan Yamaha-nya. Pada saat yang sama, atau malah mungkin sepersekian detik sebelumnya, Bagnaia juga mempecundangi motor Ducati lain yang dipacu Marini.

Kenapa saya menggunakan kata “menghilangkan”? Ya karena kenyataanya memang begitu. Toh nggak mungkin juga si jurnalis nggak liat dan nggak tahu kalo saat itu Bagnaia nyalip dua motor sekaligus.

Sudut Pandang

Saat kita melihat suatu peristiwa, kita harus melihat secara keseluruhan. Tidak seharusnya memotong dan menilai hanya sebagian kecil saja lalu menjatuhkan judgement. Begitu juga ketika kita melihat sebuah balapan, kita harus melihatnya secara keseluruhan.

Di akhir balapan Bagnaia dengan Ducati GP22-nya finish terdepan sementara Quartararo dengan Yamaha YZM-R1-nya finish di posisi kedua. Diantara kedua pembalap itu saja. Bagnaia start dari posisi ke-5 sedangkan Quartararo start dari posisi ke-6. Mereka start beriringan dan finish beriringan.

Artinya di satu frame selepas start Quartararo mempecundangi Bagnaia, lalu di trek lurus yang disorot berita Bagnaia balas mempecundangi Bagnaia. Itu spesifik soal kombinasi pembalap, konstruktor, tim, dan tipe motor. Bagnaia dengan Ducati GP22 dan Quartararo dengan Yamaha YZM-R1.

Itu soal pecundang-mempecundagi. Sementara saya fikir jurnalis seharusnya tidak memilih kata-kata hiperbolis yang mengekspresikan preferensi pribadinya. Memberitakan fakta, pilihan kata itu penting. Daripada mempecundangi dia seharusnya lebih memilih kata lain seperti mendahului, menyalip, atau menyusul misalnya.

Kalau pribadi-pribadi pecinta Yamaha berdebat dengan pecinta Ducati, fans Quartraro berdebat dengan fans Bagnaia, wajarlah pake kata-kata seperti itu. Tapi jurnalis seharusnya memberitakan tanpa penekanan apalagi preferensi. Kalau nggak profesionalismenya layak dipertanyakan.

Kalau ditarik lebih lebar. Pada saat start, di depan Yamaha yang digeber Quartararo ada jejeran lima Ducati. Di Giannantonio, Bezzecci, Marini, Zarco, dan Bagnaia sendiri. Jadi saat finish di posisi kedua di akhir balapan, Yamaha tunggangan Quartararo mempecundangi empat Ducati. Hanya satu Ducati yang gagal dia pecundangi, yaitu Ducati yang ditunggangi Bagnaia.

Sebatulnya kalau mau fair, selain Yamaha yang digeber Quartararo mepecundangi empat Ducati kita juga harus menyebut kalau Ducati yang dipacu Bagnaia mempecundangi empat Ducati lainnya.

Bicara tipe, dari empat Ducati yang dipecundangi Quartararo – dan Bagnaia – itu, sebagian diantaranya adalah GP22, tipe yang sama dengan Ducati-nya Bagnaia.

Final Thoughts

By the way. Kalau saya terdengar seperti membela Quartararo dan Yamaha, saya memang fans Yamaha dari sejak saya mulai menyukai MotoGP. Sebagai fans Yamaha tentu saya juga mendukung pembalap-pembalap utama Yamaha, Rossi, Lorenzo, dan sekarang Quartararo. Meskipun bentuk dukungannya nggak lebih dari sekedar hore-hore di depan layar televisi. Atau layar handphone.

Motivasi saya membuat post ini mungkin karena jengkel. Jengkel karena nuansa dari berita itu merendahkan motor dan pembalap yang saya dukung. Tapi esemsinya bukan soal motor dan pembalapnya, tapi soal kesan merendahkannya itu.

Sudah lama nggak posting MotoGP.

Mungkin tahun ini saya sama sekali belum ada posting soal MotoGP. Saat di awal saya posting mengenai gelaran seri kedua di Mandalika, saya juga nggak bicara soal MotoGP-nya tapi lebih ke sisi sirkuitnya, gelarannya, dan tentunya Mbak Rara-nya yang mungkin jauh lebih menarik perhatian dunia dibandingkan para pembalap top yang beradu cepat di lintasan.

Sekarang saya baru posting soal MotoGP lagi, tapi saya kira lagi-lagi nggak soal bapalannya. Tapi soal satu berita mengenai itu.

Finally. Wisdomnya adalah bahwa masing-masing orang menilai sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Bahkan mereka yang secara profesional punya kewajiban untuk memberitakan peristiwa secara berimbang.

adiarifin.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.