Categories
Hobi

Bersiap untuk New Normal: MotoGP Tanpa Rossi

Saya penggemar MotoGP dari sejak lama, dari masih 500cc. Jaman-jaman jejeran nama seperti Wayne Rainey, Mike Doohan, Kenny Roberts, Max Biaggi, Sete Gibernau, Nicky Hayden, dan pembalap-pembalap lain malang melintang di lintasan seiring awal-awal kehadiran Valentino Rossi di kelas tertinggi. Karena itu keputusan Yamaha untuk tidak lagi melanjutkan kontraknya jadi terasa menguras emosi. Meskipun saya bukan penggemarnya, buat saya MotoGP yang saya kenal itu ada Valentino Rossinya, jadi kalau tahun depan dia nggak ada lagi di MotoGP, rasa-rasanya saya akan merasa sangat kehilangan. MotoGP tidak lagi akan terasa sebagai MotoGP. Kalaupun misalnya pada akhirnya dia memutuskan mau dan ada tim satelit yang menyediakan motor untuknya, rasanya akan tetap terasa beda, karena sosok Rossi identik dengan posisi pembalap utama tim pabrikan.

Tapi saya sendiri melihat kalau keputusan Yamaha itu juga keputusan yang sangat logis. Kenyataannya sejak dia kembali dari Ducati, prestasi Rossi sama sekali tidak mengesankan. Meskipun tidak moncer-moncer amat, catatan prestasi Jorge Lorenzo yang menjadi rekan setimnya jauh lebih baik. Maverick Vinales yang kemudian mengisi posisi Lorenzo yang memutuskan untuk pindah ke Ducati, meskipun bisa dibilang miskin pengalaman, catatan prestasinya juga lebih baik.

Apa penyebab sinar Rossi seperti meredup di Yamaha? Entahlah. Banyak asumsi, banyak argumen, banyak spekulasi, tapi yang jelas memang meredup. Salah di motor? Lorenzo dan Vinales memakai motor yang sama. Salah di ban? Semua pembalap memakai ban yang sama. Salah tim mekanik? Rossi bahkan sudah mengganti kepala mekanik yang sudah lama mendampinginya.

Atau karena Rossi sudah terlalu tua?

Apapun logika yang menggiring Yamaha mengambil keputusan melepas pembalap andalannya, kenyataannya keputusan itu sudah mereka ambil. Meskipun secara emosi saya sebagai salah satu penggemar MotoGP tidak bisa legowo menerima keputusan itu, ternyata Yamaha tidak peduli dengan keberatan saya.

Hari ini setelah sekian lama menunggu penundaan cukup lama akibat dunia dilanda Covid-19 akhirnya kita dapat menikmati lagi gelaran besut-besutan motor paling bergengsi di muka bumi itu. Semangat ’45, meskipun kebetulan saya tidak sedang bisa mengakses televisi, saya menggeser-geser waktu nonton di layar super kecil smartphone.

Ada banyak hal yang ternyata diluar dugaan saya. Pertama Marc Marquez yang gagal finish. Berada di kelompok terdepan meskipun tidak memulai dari posisi terdepan bukan hal aneh buat Marquez. Tapi setelah jatuh dan tercecer sampai hampir di ujung belakang, di posisi 18, lalu sanggup merangsek sampai kembali di posisi ketiga hanya dalam beberapa lap benar-benar menunjukkan Marquez memang punya kelas sendiru. Tapi gagal finishnya benar-benar diluar dugaan. Apalagi belakangan diketahui cedera akibat kecelakan hebat itu mungkin akan membuatnya tersisih dari lintasan selama berbulan-bulan. Kedua Alex Marquez, sang adik yang baru saja naik kelas dan menjadi rekan setim sang kakak di tim pabrikan Honda. Wajar kalau rookie agak kesulitan, kalau tidak pada tahun-tahun pertamanya, setidaknya pada seri-seri pertamanya. Tapi dengan prestasinya di Moto2 dan garangnya performa motor Honda, motor yang sama dengan yang ditunggangi sang kakak, prediksi saya dia finish tidak akan terlalu jauh. Bukan juara, tidak naik podium, okelah. Tapi setidaknya 5 besar lah.

Tapi yang ketiga yang terasa emosional buat saya. Rossi tercecer jauh di belakang, padahal Vinales rekan setimnya finis di posisi kedua. Pemenang balapan malah pembalap tim satelit yang sama-sama menggunakan motor Yamaha. Penunggangnya Fabio Quartararo, pembalap muda yang sudah dikontrak Yamaha untuk menggantikan Rossi mulai tahun depan. Memang di penghujung balapan langkah Rossi terhenti karena motornya mogok. Artinya memang ada masalah pada motornya. Tapi bahkan jauh sebelumnya, di awal-awal balapan, Rossi juga nampak tidak kompetitif. Start dari posisi 9, Rossi melorot posisi 10 saat ia menghentikan motornya, 7 lap sebelum balapan berakhir. Kalau mau ditarik mundur lebih jauh, sejak babak kualifikasi, bahkan sejak latihan resmi situasinya tidak lebih baik juga.

Kenyataan Rossi tercecer dan Quartararo menang sepertinya menunjukkan pada kita kalau keputuaan Yamaha melepas Rossi dan menggantikannya dengan Quartararo adalah keputusan tepat, dengan cara yang sangat ekstrim. Bukan hanya quartararo kencang dan Rossi sedikit lebih lambat, tapi Quartararo menang sementara Rossi tercecer jauh di belakang.

Sepertinya saya harus membiasakan diri dengan new normal … MotoGP tanpa Rossi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.