A Journey Towards the Light

Penting Gitu Nge-Bully Iis Dahlia?

P

Mungkin tidak pada tempatnya menyebut pernikahan anak kedua yang juga putri satu-satunya pasangan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana sebagai “royal wedding” alias pernikahan agung. Bukan karena sosok orang Kahiyang Ayu kurang terhormat, tetapi karena beliau-beliau sendiri sangat nampak berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai manusia biasa. Bukan sebagai Presiden dan Ibu Negara, tetapi sebagai Jowo Widodo dan Iriana, ayah dan ibu mempelai wanita.

Tapi sebagai kepala negara yang sedang menjabat, tentulah keluarga tersebut tidak bisa benar-benar dipisahkan dari jabatan yang diemban Pak Jokowi. Meskipun acaranya dibuat sedemikian merakyat, tetap saja pengawalan VVIP tidak bisa ditanggalkan. Meskipun Pak Jokowi dan keluarga mengundang masyarakat sekitar yang merupakan warga masyarakat biasa, banyak diantara tamu undangan merupakan sosok-sosok penting, dari pejabat tinggi pemerintahan, tokoh masyarakat kenamaan, ulama-ulama terpandang, sampai artis-artis papan atas.

Meskipun sudah beberapa hari berlalu, bahkan Pak Jokowi sendiri sudah kembali beraktivitas bahkan akan segera bertolak ke luar negeri untuk sejumlah acara internasional, sisa-sisa keriuhan pernikahan putrinya belum juga reda.

Hari ini yang menjadi bahan pergunjingan netizen adalah ketidakhadiran artis senior Iis Dahlia yang konon menjadi salah satu dari sedikit orang yang menerima undangan untuk menghadiri acara tersebut. Bukan hanya tidak menghadiri undangan tersebut, banyak netizen menganggap alasan ketidakhadirannya sangat tidak pantas, tidak menghormati keluarga Pak Jokowi yang mengundang. Bahkan karena ada bagian dari pernyataan sang artis yang menyebut Solo sebagai sebuah kota kecil, banyak yang menganggap pernyataan tersebut sebagai penghinaan terhadap Kota Solo.

Penting nggak sih?

Saya koq justru melihatnya justru mereka yang kemudian mencaci Iis Dahlia sebagai “baperan”. Bahwa sebagai manusia, apalagi dalam agama Islam kita diajari untuk saling menghormati dan menjaga silaturahmi, tentunya jika kita diundang seseorang, kecuali ada alasan yang benar-benar tidak dapat dihindari, sepantasnya kita hadir. Tapi kalau tidak, itu sebetulnya bukan urusan pengundang apalagi kita-kita yang sama sekali nggak ada urusan, tapi antara dia sendiri dengan Allah SWT.

Apalagi kalau diingat bahwa yang mengundang adalah keluarga orang nomor satu di negeri ini. Konon hanya ada 8000 orang yang hadir dalam perhelatan itu. Penduduk Indonesia ltu lebih dari 250 juta jiwa. Sehingga menjadi salah satu dari segelintir orang yang menerima undangan tentunya merupakan sebuah kehormatan yang sangat tinggi. Memilih untuk tidak hadir rasanya memang tidak pantas. Apalagi alasan yang dikemukakanpun jelas-jelas tidak menunjukkan kedaruratan. Tapi lagi-lagi, apa pantas kemudian membuat kita mengotori mulut dan hati kita dengan mencaci Iis Dahlia? Bukankah jadinya kita sama saja atau bahkan lebih buruk dari dia? Jangan lupa, Allah SWT pastinya tidak hanya mencatat ketidakhadiran Iis Dahlia, tetapi setiap orang yang melontarkan cacian.

Jangan pikir malaikat itu jadul sehingga nggak memantau media sosial lho.

Lalu bagaimana dengan Kota Solo? Saya kira terlalu “baper” kalau pernyataan Iis Dahlia itu sebagai penghinaan. Bahwa Kota Solo itu kecil itu kan relatif. Tapi memang dibandingkan dengan kota-kota metropolitan tanah air seperti Jakarta, Surabaya, Medan, atau Bandung, kan Solo memang jauh lebih kecil. Kalau Iis Dahlia berfikir demikian banyak tamu VVIP datang bersamaan ke kota seukuran Solo kemudian akan susah dapat tiket pesawat dan hotel saya kira wajar saja.

About the author

Add Comment

By admin
A Journey Towards the Light

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

admin

Get in touch

Quickly communicate covalent niche markets for maintainable sources. Collaboratively harness resource sucking experiences whereas cost effective meta-services.