A Journey Towards the Light

Jasa Web Design di Indonesia Nggak Laku Lagi?

J

Sudah lama saya tidak lagi memperhatikan dunia digital marketing di Bali, tempat dimana saya sempat cukup lama menekuni profesi di bidang itu, dari membangun websitenya itu sendiri sampai membuatnya menjadi mesin uang. Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat obrolan dengan salah satu pemain yang masih aktif disana, web designer yang menawarkan jasa pembuatan website di Bali dan semua tetek bengek yang berhubungan dengan dunia dunia digital marketing.

Seperti biasanya, saya cenderung mendengar dan membiarkan obrolan dia yang mendominasi. Pertama kayaknya sifat bawaan saya memang cenderung mendengar. Kedua – dan ini mungkin alasan yang lebin jujur sih – karena saya memang tidak terlalu tertarik menanggapi “curhat” meskipun itu bukan curhatan pribadi dan lebih berhubungan dengan profesi. Ada banyak yang terungkap, tapi yang paling berkesan di benak saya adalah mengenai sulitnya menjual jasa yang berhubungan dengan digital marketing di Bali. “Susah sekali jual jasa web design di Bali, nggak laku”, ungkapnya dengan nada yang menggambarkan frustrasi tingkat dewa.

“Jasa web design di Bali nggak laku, hmmm, benarkah?” Tapi pertanyaan itu tidak saya lontarkan, saya biarkan tetap tersimpan di benak saya saja. “Padahal saya sudah turunkan harga habis-habisan Mas, tapi tetap saja, saya tawarkan 500 ribu saja orang tetap nggak mau”, sambungnya.

Luar biasa, harga kurang dari $40 untuk sebuah website dan orang tetap tidak mau beli. Lagi-lagi, itupun hanya terlintas di dalam pikiran saya saja, tidak saya lontarkan. Banyak orang disini menghabiskan lebih dari segitu hanya untuk sekali makan siang atau bahkan hanya sebotol minuman. “Nggak cuma bikin website aja Mas, saya tawarkan jasa SEO di Bali juga banting-bantingan harga dan tetep orang nggak mau juga”, dia terus nyerocos, mungkin karena saya belum juga bereaksi dengan rentetan keluhan yang meluncur deras dari mulutnya. Ups, mungkin tepatnya dari ujung jempolnya, hehehe.

“Kamu kan main online, ya dipake lah itu, jangan batasi diri dengan Bali saja, kebutuhan digital marketing di Indonesia kan besar, tawarkan juga keluar Bali dong”, balas saya sekenanya. Nggak mikir panjang sih. Cuma nggak enak aja orang udah nyerocos panjang dan saya nggak nanggepin sama sekali. “Wah ya apalagi kali Mas, lha saingannya pastinya lebih besar, kalo nawarin jasa web design Indonesia itu kan pemain-pemain Jakarta, Bandung, Jogja, malah lebih jago-jago toh Mas”, sambarnya. Lah. Saya nimpalin koq jadi seperti memercikkan bensin ke api yang sudah mulai melempem.

Susah ya …
Pada dasarnya website develompent sekarang sudah sangat berbeda.

Di awal-awal saya menekuni profesi itu, membuat website menuntut keahlian khusus yang pada saat itu hanya segelintir orang memilikinya. Pada saat itu menguasai HTML itu sudah bisa membuat kita mendapat penghasilan cukup besar. Demand mungkin sedikit, tapi supply juga sedikit, alhasil proyek banyak dan bayarannya mahal. Saya ingat persis di awal tahun 2000-an saya mematok harga 2 sampai 5 juta untuk sebuah website yang terdiri dari sekitar 5 sampai 10 halaman statis. Kalau ada update, ya harus bayar lagi, meskipun hanya sekedar menyisipkan satu dua kalimat saja.

Kalau websitenya dinamis dimana isi website dan halaman-halamannya bisa terupdate secara otomatis dengan menghubungkannya dengan database yang isinya bisa diupdate kapan saja oleh si pemilik website atau karyawan yang ditugaskannya sebagai operator data entry, ceritanya bisa lain lagi. Tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. HTML saja tidak cukup, diperlukan teknologi dan bahasa pemrograman khusus untuk aplikasi online seperti ASP, Perl, Phyton, Java, dll. Belum lagi rancang bangun databasenya. Belum lagi sistem data entry-nya. Bayarannya juga tentu menyesuaikan, bisa kebeli mobil.

Sekarang semua orang bisa membuat website sendiri. Cukup dengan menggunakan platform WordPress kita sudah bisa memiliki website dinamis yang datanya bisa kita update kapan saja dari mana saja. Bahkan tidak perlu komputer, cukup dari ponsel. Tidak diperlukan keahlian khusus. Bisa berselancar di dunia maya dengan menggunakan “browser”, bisa mengetik, cukup. Perlu fungsi-fungsi khusus yang spesifik seperti booking kamar pada website hotel atau pembayaran online pada website toko online? Tinggal tambahkan Plugin yang sesuai dengan kebutuhan. Bayar? Yang gratis dan bagus banyak.

Dan … WordPress tidak sendiri. Ada banyak platform yang menawarkan layanan yang sejenis dan sama-sama gratis.

Untuk mereka yang hanya ingin sekedar berjualan secara online, cara yang lebih mudah dan cepat dari membuat website sendiri juga banyak, sama-sama gratis pula. Banyak yang sukses jualan hanya dengan mengandalkan medial sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan platform iklan digital yang kita kenal sebagai Marketplace seperti OLX, Tokopedia, dll. Bahkan platform chatting online seperti WhatsApp dan Line juga sekarang bisa digunakan untuk menjajakan jaulan.

“Emang kamu bikin website buat client-clientnya pake apa?”, tanya saya. “WordPress Mas”, jawabnya. Dilanjutkan dengan penjeasan panjang lebar menyangkut alasan menggunakan platform itu, lengkap dengan deretan keunggulanya yang saya yakin dia juga tahu kalau saya juga hafal sama fasihnya dengan dia.

Memang susah ya. Untuk sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri dengan mudah, tentunya memang susah kita minta bayaran, meskipun kecil.

Banyak orang yang terlalu sibuk untuk mengerjakan hal-hal yang mudah untuk dilakukan sendiri dan memilih untuk membayar orang lain. Nyuci baju misalnya, dikerjakan sendiri gampang, kita juga bisa beli mesin cuci biar lebih cepat dan mudah lagi, tapi banyak diantara kita yang lebih suka membayar jasa laundry. Tapi membangun website, membangun “presence” bisnis kita di dunia maya yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia, itu cerita lain. Kalau bisa dilakukan sendiri orang akan cenderung melakukannya sendiri. Kenapa? Karena ini menyangkut kepribadian. Bukankah untuk penampilan kita sendiri, beli baju, kita lebih suka memilih sendiri? Tapi untel kebutuhan khusus, ada sejumlah orang yang menyerahkanya pada orang lain yang dianggap lebih ahli untuk menata penampilan, memilih pakaian, memadankan warna, mendandani wajah dan rambut, bahkan mengatur gesture seperti cara duduk, geraken tangan, pandangan mata, dll.

Karena menyangkut “presence”, biasanya client tidak serta merta membiarkan orang lain membuatkan websitenya begitu saja tau-tau beres dan OK. Kalaupun memilih untuk membayar orang lain mengerjakan websitenya, dia akan tetap menghabiskan banyak waktu untuk memberikan briefing, diskusi, evaluasi, dll. untuk memastikan websitenya nanti sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan image perusahaannya. Padahal kalau kita punya bisnis, mau bikin website, mem-briefing web designer menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan, belum tentu dia memahami sesuai dengan yang kita harapkan. Kalaupun dia memahami persis sesuai yang dia harapkan, belum tentu kemudian nantinya dia menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan yang kita harapkan. Bisa bolak-balik muter-muter nggak karuan sampai akhirnya kita mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan.

Daripada kita membuang-buang waktu begitu, dan kemudian kita tetap harus membayar, kalau ada cara dimana kita bisa menuangkan apa yang ada di kita dan langsung jadi website, ngapain bayar orang lain toh? Sama-sama harus membuang waktu koq.

“Sebetulnya jalan web design masía laku nggak sih Mas?”, tanyanya menjelang akhir obrolan. Ya masih lah. Tapi kalau pikiran kita masih sama dengan awal tahun 2000-an ya memang siapa yang mau beli. Apa nilai lebih yang kita bisa berikan dari sekedar bikin halaman web. Nyatanya sampai sekarang pemain-pemain papan atas masih tetap bisa mendapatkan kontrak web development dengan bayaran yang jauh, jauh, jauh lebih besar.

Analogi saja. Sekarang orang bisa membeli kamera professional, DSLR, dengan harga terjangkau. Pemakaiannya juga serba otomatis, semua bisa pake, nggak perlu kursus, bahkan baca buku manualnya saja biasanya nggak perlu. Kamera handphone saja sekarang kualitasnya sudah luar biasa. Tapi fotografer profesional masih tetap ada dan bayarannya tetap tinggi.

About the author

Add Comment

By admin
A Journey Towards the Light

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

admin

Get in touch

Quickly communicate covalent niche markets for maintainable sources. Collaboratively harness resource sucking experiences whereas cost effective meta-services.