A Journey Towards the Light

Blog Dihidupkan Karena Jatuh Cinta dengan Theme

B

Domain ini sudah lama saya beli … entah untuk apa. Saat TLD .ID ditawarkan saya memang langsung membeli domain yang sesuai dengan nama saya. Nggak ada alasan yang penting-penting amat sih. Mungkin karena nama saya pasaran, sehingga semua properti online yang menggunakan nama saya sudah ada yang memiliki. Sebut saja misalnya nama domain dengan TLD .COM. Atau akun Gmail dari Google. Saya bisa saja menggunakan nama saya untuk akun media sosial seperti Facebook dan Twitter, tapi hanya sebagai “Display Name” saja karena memang memungkinkan untuk sama, tapi sebagai username yang biasanya juga digunakan menjadi URL, udah dipake orang lain juga.

Makanya pas .ID ditawarkan, saya langsung membeli domainnya. Pengennya sih mendaftarkan ADI.ID, keren kan? Sayangnya ternyata untuk TLD .ID, domain yang panjangnya hanya 3 huruf ini dibandrol dengan harga yang sangat aduhai. Bukannya nggak kebeli sih … cuma nggak tega aja. Nggak tega nyicil bayar utangnya maksudnya. Hehehe.

Begitulah kura-kura. Karena memang niatnya hanya mengamankan domain, ya begitu domain aman, tujuanpun tercapai sudah. Makanya saya tidak merasa berdosa membiarkannya terparkir cukup lama tanpa diotak-atik. Selama itu, saya menimbang-nimbang, untuk apa baiknya domain ini saya pakai. Sebagai seorang pekerja profesional, saya tahu banyak orang yang “sejenis” dengan saya menggunakan nama sendiri sebagai website bisnis. Ada banyak contohnya. Pengacara, konsultan, fotografer, designer grafis, dll. banyak sekali yang menggunakan nama sendiri sebagai domain untuk website bisnis. Kalau mau nyebut contoh, misalnya saja fotografer kenamaan Darwis Triadi menggunakan domain adarwistriadi.com untuk website bisnis sehubungan dengan profesinya sebagai fotografer. Kemungkinan lain tentunya menjadikannya sebagai blog pribadi.

Entah setelah berapa bulan saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan domain ini untuk blog pribadi saja. Menuliskan apapun yang saya fikirkan dan lakukan. Benar-benar sebagai blog sesuai “fitrah”-nya, sebagai jurnal pribadi.

Sayangnya setelah sekian lama mencari-cari saya tidak juga menemukan theme yang cocok dengan selera saya. Bisa saja sih bikin sendiri. Tapi dengan begitu banyak theme yang bisa kita pakai secara gratis atau bisa kita beli hak pakainya dengan harga yang relatif murah, rasanya koq kurang kerjaan amat kalo sampai bikin sendiri. Akhirnya setelah membuka hosting, meng-install WordPress, dan mem-publish posting pertama, nganggur lagi. Sudah ada theme yang sejatinya merupakan salah satu theme terbaik di pasaran terinstall, tapi entah mengapa saya tidak merasa “sreg”. Padahal theme itu memang sangat bagus. Saya pakai untuk beberapa client bahkan untuk beberapa website komersial saya sendiri. Tapi koq rasanya saya nggak “happy” melihatnya sebagai blog.

Sampai akhirnya saat saya jungkir balik mencari-cari theme untuk sebuah proyek website, saya menemukan theme bernama “Typography”. Jujur saja, awalnya nemunya bukan di portal-portal penjual theme seperti themeforest.net dan sejenisnya, tapi di portal theme “bajakan”. Hehehe. Memang buat pemain web development yang sering menggunakan mesin WordPress, biasanya kita memang mendownload them secara ilegal dulu, untuk uji coba, memastikan apakah tampilannya sesuai selera, apakah fitur-fiturnya sesuai kebutuhan, apakah kustomisasi yang diperlukan bisa terakomodasi, dll. Kalau sudah benar-benar pasti, baru beli. Hmmm. Kalo saya sih begitu. Tapi saya tahu ada banyak koq pemain yang tetap menggunakan bajakan meskipun untuk website milik client yang membayar mereka jauh lebih besar dari harga theme yang dipakainya. Bukan hal aneh sih, kita memang lahir dan besar di lingkungan dimana praktek-praktek seperti itu terasa wajar.

Kalo saya pribadi sih nggak. Bukan takut ketahuan sama yang hasil kerjanya saya “bajak” sih. Kalo itu mah saya juga yakin aman-aman saja. Nggak ada ceritanya kita bikin website pake theme bajakan tiba-tiba kita diciduk polisi. Saya cuma nggak enak hati saja. Bukan sama si pembuat theme, tapi sama client. Dia lho bayar saya berlipat-lipat dari harga theme yang dipake, hanya untuk customize menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan mereka. Masa iya kita kasih barang bajakan. Yang bener aja!

Hmmm. Ngelantur-ngelantur. Apa yang membuat saya tertarik dengan theme “Typography” ini? Kesederhanaannya. Demikian sederhananya sampai-sampai theme ini tidak menerima foto atau bentuk-bentuk media lain. Hanya teks. Di era dimana bahkan foto pun sudah terasa jadul karena diganti dengan video berformat tinggi, “menulis” blog yang full teks terasa teramat jadul. Tapi disitu justru saya merasakan tantangan. Membuat posting blog yang murni teks tentu menuntut perhatian khusus karena kita tidak bisa menambahkan file-file multimedia untuk membantu pembaca memahami tulisan kita.

Jadi inilah blog saya … TEXT ONLY.

Sebetulnya sih theme ini bisa disisipi multimedia, setidaknya foto. Satu “main picture” untuk setiap posting sih bisa diakomodasi tanpa harus customize. By-default memang bisa. Tapi ya tetep saja, memang sesuai penjelasannya, theme ini sejatinya memang text only. Dan kalo saya liat-liat sih memang kalo dipaksain ada foto kayaknya justru nggak seru deh. Justru mengagumkannya sebetulnya adalah tanpa bantuan foto, secara visual dia tetep keliatan menarik. Nggak gampang kan bikin begitu?

Mungkin itu makanya meskipun sangat sederhana, untuk ukuran sebuah theme WordPress, harganya termasuk mahal. Tidak jauh beda dengan theme-theme papan atas yang sarat fitur. Konon memang membuat sesuatu yang sederhana tapi menarik itu justru jauh lebih sulit.

 

About the author

Add Comment

By admin
A Journey Towards the Light

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

admin

Get in touch

Quickly communicate covalent niche markets for maintainable sources. Collaboratively harness resource sucking experiences whereas cost effective meta-services.