A Journey Towards the Light

Apa Hubungan Antara Coklat dengan Kemaksiatan?

A

Mahasiswa itu sejatinya merupakan generasi muda terpelajar yang tampil sebagai motor kemajuan. Tidak semua orang di usia mereka punya kesempatan untuk menimba ilmu di bangku perguruan tinggi, banyak diantaranya yang terpaksa bertarung dengan kerasnya kehidupan untuk sekedar menafkahi diri atau keluarganya. Apalagi kalau bangku yang mereka duduki itu berada di perguruan tinggi ternama yang tidak semua orang bisa lulus dan diterima. Untuk bisa lolos ujian masuk saja diperlukan kecerdasan tingkat tinggi, setelah duduk mereka bertahun-tahun mendapatkan siraman ilmu dari para pakar yang sangat berkompeten. Bayangkan betapa cerdasnya mereka. Bayangkan apa yang bisa dicapai oleh negeri ini kalau mereka menggunakan kecerdasan yang mereka miliki dan ilmu yang mereka kuasai untuk kemajuan bangsa.

Sayang akhir-akhir ini kita berulang kali disuguhi kenyataaan yang bertolak belakang, mereka memilih untuk memamerkan kebodohan. Sesuatu yang seharusnya tidak hanya mempermalukan dirinya sendiri tetapi juga marwah institusi tempatnya duduk untuk menimba ilmu. Setelah sosok mahasiswa UI yang bermain wasit-wasitan di tengah acara yang sangat sakral untuk sebuah lembaga perguruan tinggi, hari ini muncul berita baru yang lagi-lagi memamerkan kekonyolan kaum intelektual muda ini. Dilansir oleh situs berita nasional Liputan 6, tersiar berita sekelompok mahasiswa di Kota Bogor berdemo menolak perayaan Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Link beritanya ada disini.

Tidak ada yang aneh dengan penolakan sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam menolak perayaan hari yang diidentikan dengan hari kasih sayang itu. Setiap tahun juga begitu. Menjelang perayaan Hari Valentine biasanya muncul riak-riak penolakan, entah dalam bentuk demo, ceramah, postingan di portal social media, dll. Setelah tanggal 14 Februari-nya beralu, semua padam dengan sendirinya, seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi dengan tanggal 14 Februari di tahun berikutnya. Argumen yang dipakai bermacam-macam, dan saking seringnya terjadi, setiap tahun, rasa-rasanya kita sudah cukup hafal satu-persatu argumen yang mereka kemukakan. Tiap tahun sama koq, seperti kaset yang diputar berulang-ulang.

Tapi saat membaca isi beritanya, ada hal yang menggelitik untuk disimak.

Dikutip dalam artikel berita itu adalah pernyataan sang pemimpin aksi “… kasih sayang tidak harus selalu diperingati pada setiap 14 Februari. Namun, bisa setiap hari kepada siapa pun yang dicintai, seperti saudara, orangtua, atau siapa saja yang berhak dikasihi.”

Ada dua potongan yang berbeda makna disini. “Kasih sayang tidak tidak harus diperingati ada setiap 14 Februari namun bisa setiap hari kepada siapapun …” Ungkapan kasih sayang memang harus kita lakukan tiap hari, tiap jam, tiap detik, dalam setiap helaan nafas kita. Bukankah melalui Rasulnya Allah mengajarkan kasih sayang pada kita semua? Tapi disitu ada kata PERINGATAN yang tersisip. Kasih sayang harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, tapi yang namanya “peringatan” masa iya kita lakukan setiap hari. Hanya karena kita sudah merdeka dan sibuk bekerja bahu-membahu mengisi kemerdekaan lalu kita memperingati hari kemerdekaan setiap hari? Kalo panjat pinang tiap hari kapan kerjanya?

Ada banyak analogi lain yang bisa kita ambil. Bisa lihat daftar di bawah lalu tambahkan banyak contoh lainnya. Tidak akan ada habisnya.

  • Kita menghormati dan mencintai sosok yang melahirkan kita ke dunia dan membesarkan kita dengan penuh kasi setiap saat. Tapi peringatan Hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember.
  • Kita menikmati kehidupan damai sebagai Umat Islam atas kehadiran Rasulullah Muhammad SAW. Setiap saat kita bersyukur, 5 kali sehari kita bersembahyang kalau tidak ditambah shalat-shalat sunat. Tapi kita memperingati kelahiran Rasulullah setahun sekali saja.
  • Mengendalikan hawa nafsu itu sesuatu yang harus kita lakukan setiap saat, setiap hari. Lalu kenapa kita memperingati kemenangan pada Hari Raya Idul Fitri saja?

Jadi kalau untuk kasih sayang yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari itu sebagian orang ada yang memilih hari tertentu untuk memperingatinya, salahnya dimana?

Yang berikutnya bukan hanya tidak kalah lucu tapi lebih lucu lagi.

Dalam berita itu disebut orang yang sama juga menyatakan ”Cokelat dianggap sebagai simbol kasih sayang, padahal indentik dengan kemaksiatan,” nah loh!

Saya tidak tahu dari mana dia menyimpulkan kalau orang menganggap coklat sebagai simbol kasih sayang. Toh pada kenyataannya di saat merayakan Hari Valentine, orang juga tidak hanya menggunakan coklat. Ada bunga terutama mawar dan dominasi warna pink. Kalau saya mengasihi dan menyayangi ibu saya, saya tidak akan memberikan beliau coklat, karena beliau diabetes, boro-boro ungkapan kasih sayang, ngarep cepet mati namanya. Hehehe.

Nah itu soal menghubungkan coklat dengan kasih sayang. Lalu kalau menghubungkan coklat dengan kemaksiatan? Apa nggak jauh panggang dari api namanya? Apa salahnya si coklat ini. Apa yang ada di kepala mereka soal kemaksiatan.

Biasanya yang disebut maksiat itu hubungan antara dua manusia berlawanan jenis yang melakukan aktivitas berbau syahwat. Kalau mereka menghubungkan kondom dengan kemaksiatan saya masih bisa melihat logikanya.

Banyak mereka yang melakukan perbuatan maksiat di kamar hotel. Apa kemudian kita menghubungkan hotel dengan kemaksiatan terus menuntut pemerintah untuk menutup semua hotel? Kebanyakan mereka yang berbuat maksiat melakukannya di atas kasur, lalu semua kasur harus dibakar kita nggak boleh tidur di atas kasur lagi? Lalu bagaimana dengan seorang sosok terhormat yang diberitakan berbuat maksiat melalu aplikasi WhatsApp dengan seorang yang bukan istrinya … apakah WhatsApp lalu diidentikan dengan kemaksiatan? Oh ya, aplikasi itu kan dioperasikan melalui ponsel. Apakah kemudian ponsel bisa dikatakan simbol kemaksiatan?

 

About the author

1 Comment

  • Keren logikanya bro! Salut aku. Otak mereka terlalu cingkrang. Klo nggak setuju ya diam saja. Lebih baik bikin aksi tandingan yang wujudkan kasih sayang yang kata mereka bisa tiap hari.

By admin
A Journey Towards the Light

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

admin

Get in touch

Quickly communicate covalent niche markets for maintainable sources. Collaboratively harness resource sucking experiences whereas cost effective meta-services.